Rabu, 28 Oktober 2009

The Cult of Pee Wee Gaskins

from http://thejakartaglobe.com/lifeandtimes/the-cult-of-pee-wee-gaskins/338201

The Pee Wee Gaskins have risen from the Indie scene to the mainstream on the back of a single full-length album. (Photo courtesy of the band)

In the two years since it was formed, Pee Wee Gaskins, a pop-punk group based in Jakarta, has rapidly leapt from the indie scene to the mainstream.

With a single full-length album under its belt, the band has been featured in numerous magazines, including Hai, Rolling Stone Indonesia and Trax, as well as appearing on TV shows like O Channel’s Demo and MTV Indonesia.

The band took its name from Donald “Pee Wee” Gaskins, who gained notoriety in 1991 for being the first white man in more than half a century to be executed in the United States for killing a black man. In an attempt to stay out of the electric chair, Gaskins confessed to more than 100 murders, though he never revealed the locations of the bodies.

Pee Wee Gaskins began as a solo project for the vocalist, guitarist and main songwriter, Dochi Sabega, while he was still playing guitar for metal band The Side Project.

“Two years ago I had an acoustic song called ‘Here Up on the Attic,’ which I had written for a friend, who eventually became my girlfriend,” Dochi said.

“She said, ‘Hey this sounds nice — why don’t you write more stuff?’ So I began looking for band members [after quitting The Side Project],” he said.

Dochi recruited guitarist San-San first. The two had musician friends in common and had, for a brief time, been in the same band: Killing Me Inside, with Dochi on guitar and San-San on vocals.

The first thing they did was pick a name.

“One day we were chatting on the Internet trying to come up with a band name, and San-San mentioned wanting to name it ‘Serial Killer,’ ” Dochi said.

“We wanted a scary name, but the music we were going to play wasn’t exactly scary, so when we Googled ‘serial killer’ and the name Pee Wee Gaskins came up, it felt like the perfect amalgamation of our pop tendencies and something that was inherently terrifying,” Dochi said.

The pair then recruited musicians Aldy “Mustache” on drums, Ai on bass and Omo on keyboard and synthesizers.

By late 2007, the newly formed band was performing at a lot of low or nonpaying events. Before long, it was headlining these shows, as well as performing as guest stars at high-school bazaars, where it built its fan base.

By 2008, Pee Wee Gaskins was thriving, with appearances on TV shows such as RCTI’s “Dashyat” and SCTV’s “Playlist.”

It was also featured on the soundtrack for the movie “Married by Accident,” which starred former MTV host Nirina.

In April 2008, the band released its debut EP, “Stories From Our High School Years,” through the independent record label Kurd Records. The 2,000 copies of the EP quickly sold out.

Dochi said: “We used the Internet to promote it, and sold it hand-to-hand. We did the distribution ourselves. Total DIY!”

Between 2008 and 2009, Pee Wee Gaskins really took off. Fans, calling themselves Party Dorks, helped promote the band through the Internet and by dropping flyers. The Party Dorks were so spread out across Indonesia that there were local divisions such as Party Dorks Bali and Party Dorks Semarang.

But the band’s quick rise to the top was also met with disdain by other groups of music fans, who began calling themselves the Anti Pee Wee Gaskins, or APWG for short. Like the Party Dorks, the APWG community also grew quickly, with young people building Facebook communities where they could chat about how much they hated the band. There were also numerous subgroups, including APWG Makassar, APWG Surabaya and so on.

APWG has never officially stated its intentions, nor the reason for its hatred. Online discussions do little to illuminate the motivations of members. Juan, an APWG supporter, simply wrote on the APWG discussion board on Facebook that he “hates the band” because they are “homos, arrogant, ungrateful of their fans, copycats.”

At a show in Surabaya, a group of APWG members came to a Pee Gaskins show simply to collectively raise their middle finger throughout the band’s set.

So much negativity would bother most bands, but Dochi seems to take it all in stride. Facing the Surabaya audience of thousands, with hundreds of them flipping him the bird, he said from the stage, “You guys are still young, don’t hesitate to voice your opinion about us. We have come to make friends.”

Early this year, the band released its first full-length album, “The Sophomore,” which was released through a larger independent label called Variant Records.

The album has reportedly sold more than 4,000 copies so far. A fact that makes Dochi happy, but not quite content.

“If you are feeling satisfied, you are bound to rest on your laurels. Then again, never feeling satisfied makes us complainers. Simply put, we are always trying to push ourselves as far as we can.”

-marcel thee

Kamis, 22 Oktober 2009

san dimas highschool football rules

seniman berbakat yang menyebut dirinya "curut salto" membuat gambar ini

partydorks party dorks

ada yang nanya, "gak harus jadi partydorks kan untuk suka sama pee wee gaskins?"

gw cuma bales, "gak harus jadi orang padang kan untuk suka rendang?"


Minggu, 18 Oktober 2009

satu dari APWG yg kembali kejalan yg benar :D

dari msg ke ayi

sedikit bercerita hehe ...

dulu gua suka ama PWG , tapi banyak temen temen gua yg gak suka n bilang PWG sombong,homo,pokoknya yg jelek jelek lah . yaa akhirnya gua ikutan mereka , gua jadi APWG ( tapi gak maen fisik yh :D ) . [gua jadi APWG selama 2 minggu lebih hehe]

mmm ampe akhirnya gua baca cerita or tulisan lo bang ayi di blog nya dohci (loh wktu itu gua kan APWG knpa gua baca blog nya dochi ??? haha jawabannya karna gua hanya ikut ikutan jadi APWG pdahal sebenarnya gua suka ama musik kalian:D ) di cerita itu lo bilang jangan menilai seseorang dari pembicaraan orang lain harus mengenal nya dulu baru bisa menilai orang tersebut (intinya) , banyak omongan yg jelekin PWG n gua nerima aja tanpa mencari kebenarannya , kalo PWG sombong,homo, yg lebih parah gua perna denger cerita kalo bang ayi n ank ank PWG lain nya pernah ngeludahin ank PD karna gak make atribud PD , huhu gak tau deh bener pa gak .

TAPI setelah gua baca cerita lo itu di blog nya dochi , gua langsung mikir , bener juga yh , gua nih kyk FAKE , "cuma pengikut yg ga tau apa2 terus sok2 an padahal isi kepala gua kosong" , gua belum kenal bang ayi , dochi , omo ,aldy , sansan gua udah nilai kalo kalian tuh NEGATIF ckckck , dari situ langsung gua cari tauk kalian sapa walaupun hanya dari dunia maya ..
tapi ampe sekarang yg bisa gua nilai hanya sifat lo bang ama omo (dri ank ank PWG laen nya) dari dunia maya , lo ramah bisa di ajak bercanda , gua nilai itu dari twitter (wlaupun gua ngetwet lo 21 kali yg lo reply cuma 4 huhu ) n cara lo ngejawab prtanyaan2 ank PD ..
sansan aldy dochi ? gua gak tau deh kyk mana orang nya , tapi gua SALUT ama kalian , TETAP BERDIRI walaupun ada APWG , gua menghargai perjuangan kalian ..
sekarang gua bukan APWG or PARTYDORKS , tapi gua hanya suka ama musik PWG . oyah lupa , gua sekarang AYIDORKS :D
gua juga terima kasi ama lo bang ayi , secara gak langsung cerita lo itu jadi pelajaran buat gua , jangn nilai seseorang negatif kalo kita belum tauk kehidupan dy itu kyk mana n lebih bisa menghargai perjuangan musisi terlebi band band indonesia yg sekarang banyak ANTI nya ..
gua janji dah gak bakal jadi ANTI ANTI band yg laen sebelum gua tau mereka kayak mana ... haha

hahhahahahhaa cerita gua ini kirakira di baca gak yh ama bang ayi :p

jangan benci ama gua yh karna gua perna jadi APWG hahaha

salam buat omo aldy sansan dochi , sampein permintaan maaf gua yg udh jadi APWG walau hanya 2 minggu n sempet bepikiran kalian tuh NEGATIF ... hahaha

go go AYIDOKS :D
go go AYIDOKS :D
go go AYIDOKS :D
go go AYIDOKS :D
go go AYIDOKS :D
go go AYIDOKS :D
go go AYIDOKS :D

Minggu, 11 Oktober 2009


filosofi jari tengah

pernah sadar gak, kalo lo acungkan jari tengah keatas, jari telunjuk lo kearah mana?


kebencian cuma membawamu kebawah, bahkan tidak bisa membawamu sejajar dengan hal yang kamu benci.

sekarang dengan jari tengah diatas, naikkan juga jari telunjuk.

kemana arahnya sekarang?


bawa kebencianmu menjadi sesuatu yang akan membuatmu kearah yang lebih baik, berdamailah dengan mereka.

Selasa, 06 Oktober 2009

from hilmy's blog

this is from one of our homeboys in malang, hilmy.. enjoy

6 Oktober 2009, Pukul 0:30 WIB

Tengah malam ini saya terbangun. Bukan karena apa, tapi kali ini saya terbangun karena diskusi. Bukan diskusi apa, melainkan diskusi tentang fenomena Pee Wee Gaskins (PWG) beserta team fanatiknya: PartyDorks. Mungkin bila kali ini diskusi tersebut tentang betapa fenomenalnya PWG dan juga PartyDorksnya, saya tidak akan terbangun di tengah malam ini. Pertama karena hal tersebut adalah fenomenal, dan mungkin juga karena hal tersebut tadi adalah hal yang memang sudah fenomenal, hingga tak lagi mengusik kantuk saya malam ini.
Namun, ketika diskusi yang berasal dari sebelah kamar kos saya tadi adalah tentang fenomena Anti Pee Wee Gaskins (APWG), maka kantuk saya tiba-tiba hilang, dan saya terbangun. Topik yang juga mungkin akan menjadi fenomenal ini, beberapa hari terakhir mengusik benak saya. Hal ini mungkin berkaitan dengan dengan pengalaman saya beberapa hari yang lalu ketika saya menyempatkan diri untuk menonton LA Lights Inidefest final regional Jawa Timur di Surabaya pada Minggu 3 Oktober kemarin. Kebetulan saat itu PWG tampil sebagai bintang tamu di acara tersebut bersama Rocket Rockers, The Banery dan Saint Loco.
Dan dari pengalaman minggu itu, saya akhirnya terjaga malam ini. Hingga malam ini teman-teman sekost-an saya yang kemarin juga ikut menonton acara tersebut masih membahas pengalaman yang mereka alami beberapa hari yang lalu. Masih juga dalam penuh emosi mereka bercerita. Tentang bagaimana teman saya (yang merupakan PartyDorks tingkat lanjut) tadi beradu comment di profil facebooknya dimana dia membela PWG dari serangan APWG. Habis-habisan! Mulai dari mengadakan forum diskusi di profil FB-nya hingga mengolok-olok APWG yang tetap bergeming untuk mau setidaknya menghargai PWG. Dengan penuh tenaga dan berapi-api, seperti saat dia bercerita malam ini.
Saya pribadi baru mengalami interaksi dengan kelompok APWG pada minggu itu. Selama ini saya memang sudah sering mendengar isu-isu tentang kelompok APWG ini bebarengan dengan isu-isu tentang kelompok anti Killing Me Inside. Jadi batin saya saat itu adalah bahwa ini adalah hal yang wajar di scene musik anak muda belasan tahun ini.
Namun, pengalaman saya minggu kemarin mengatakan hal lain. Bahwa APWG adalah fenomena yang “something” bagi saya. Bahwa ini adalah kali pertama saya menyaksikan aksi band yang ‘so called’ indie mendapat apresiasi berupa serangan dari penonton. Sebuah sensasi yang mengingatkan saya saat Radja bermain di Soundrenaline 2008 Malang, dimana mereka mendapat sambutan berupa cemoohan dan lemparan. Hal yang sama yang dialami oleh PWG malam itu, dimana mereka juga bertubi-tubi mendapatkan cemoohan, acungan jari tengah dan juga lemparan botol tiap kali mereka mulai memainkan musiknya. Sebuah hal aneh jika membandingkan tingkat kebencian penonton terhadap PWG hampir sama dengan animo penonton terhadap Radja, yang jelas-jelas memiliki ranah “memancing kebencian” yang jelas beda. Bahkan, beberapa dari mereka sedemikian membenci PWG hingga mau bersukarela mencetak kaos yang berisi statement “Dog Never Say Die” yang merupakan plesetan dari slogan dari PWG, yakni “Dorks Never Say Die”. Aneh.
Yang makin membuat pengalaman malam itu aneh adalah bahwa saat itu PWG bermain dengan Rocket Rockers (RR) di panggung yang bersebelahan secara back-to-back. Sesaat ketika RR bermain, jari yang diacungkan adalah jari jempol, jari telunjuk dan kelingking (atau biasa disebut posisi jari ‘metal’ yang juga telah mengalami pergeseran makna menjadi ‘keren’). Namun sesaat kemudian giliran PWG bermain, jari yang diacungkan seketika berganti menjadi hanya jari tengah saja. Kemudian lagi, saat kembali giliran RR bermain teriakan yang lantang adalah teriakan “Rocket Rockers terus jaya!!”, dan ketika set panggung beralih kembali ke panggung PWG, maka teriakan yang paling lantang adalah teriakan “PeeWee D#NC*K Jaran!!” (sebuah umpatan khas Suroboyoan). Lagi, ketika set berpindah ke panggung RR, maka kembali kekaguman yang menganga , kemudian lagi ketika giliran PWG yang mulai bermain, maka hanya lemparan botol dan beberapa hal lain yang mengudara.
Lagi-lagi aneh, batin saya. Bagaimana dua band yang berasal dari scene yang sama dengan pasaran yang sama dan juga dengan tipe musikalitas yang tak jauh berbeda bisa mendapatkan apresiasi yang sama sekali berbeda pada massa yang sama. Dimana secara personel, PWG dan RR adalah teman baik sejauh pengetahuan saya. Bahkan Ucay RR adalah pencipta salah satu lagu PWG yang berjudul “Berdiri Terinjak”. Saya pribadi menganggap PWG adalah tempat dimana alter-ego Ucay yang mengagumi Motion City Soundtrack bisa terpuaskan. Ini terlihat dimana pada awal karirnya Ucay berkontribusi besar terhadap PWG, bahkan juga Ucay ikut masuk di video klip PWG yang berjudul “You Throw The Party We Get The Girls”.
Meskipun tetap saja, masih banyak teriakan hysteria dari beberapa remaja belia terhadap PWG, terutama dari gadis-gadis usia tanggung yang tergila-gila dengan pentolan PWG yakni Dochi Sadega. Akan tetapi, kali itu saya melihat bahwa presentase kebencian terhadap PWG lebih mendominasi suasana malam itu. Tampaknya APWG tadi tidak lagi memperhatikan kedekatan musikalitas antara RR yang sedemikian mereka puja dengan PWG yang mereka hujat. Hal yang juga aneh adalah ketika saat Psychofun - salah satu band finalis dari kompetisi Indiefest kali ini yang mengangkat Synth-Pop Punk sebagai tema musikalitas mereka - tidak mengalami hujatan yang dialami oleh PWG, bahkan mereka memperoleh apresiasi yang lumayan apresiatif ketimbang apa yang dialami oleh PWG malam itu.

Entah bagaimana perasaan personil PWG malam itu. Memang saya sempat mendengar bahwa dalam kesempatan yang lalu salah satu personil PWG juga mengalami pelemparan dan sempat berhenti (atau mogok) manggung dalam satu kesempatan manggung di Surabaya, namun saya masih belum bisa membayangkan tentang bagaimana perasaan kelima anak muda tadi ketika sesaat yang lalu mereka adalah panutan dan pujaan bagi anak-anak muda, lalu sesaat kemudian kini anak-anak muda tadi merubah pandangan mereka. Dari fanatic menuju kebencian skeptic, bahkan dalam keadaan tubuh yang masih terbalut busana (dan kacamata) yang masih mengikuti tren fashion yang PWG juga pakai (bahkan merupakan tren yang PWG ciptakan kalau menurut saya), mereka meneriaki kelima personil PWG, mereka melempari mereka.

Untung saja PWG memiliki Dochi Sadega, seseorang yang menurut saya dapat menguasai suasana dengan baik. Walaupun belum bisa seketika merubah kebencian yang ada menjadi suasana penuh suka cita. Kebencian itu masih ada. Dan kerisihan saya masih terasa, namun, sedemikian rupa sesaat setelah Dochi berbincang dengan khalayak didepannya, maka kebencian yang ada dapat setidaknya terminimalisir. Kalau tidak salah ingat, saat itu ketika hujan lemparan ke panggung Dochi berujar, “Saat-saat seperti ini mengingatkan kita di masa-masa SMA kita dulu, dimana kita masih bener-bener Dorks, yang dihujat dan dibenci, maka silahkan kalian keluarkan semua kebencian kalian, mungkin suatu saat nanti kita akan dapat belajar dari apa yang kita lakukan sekarang…” lalu kemudian kelima anak yang dihujat tadi sekonyong-konyong melantunkan lagu “Berdiri Terinjak”. Sebuah showmanship yang keren menurut saya. Hingga dapat menyurutkan kebencian yang ada walau dalam kadar yang tidak seberapa. Ditemani Ucay yang menjadi vokalis tamu di lagu ciptaannya tadi, lagi-lagi sembari memainkan gitarnya Dochi membuat saya iri dengan melakukan komunikasi dengan beberapa APWG yang dari tadi melemparinya. Dengan maju ke sudut depan panggung dan menghadapi (atau lebih tepatnya: menghindari) lemparan botol yang terus-terusan ditujukan kepada dirinya. Sebuah aksi yang cukup bijak, dan di saat yang bersamaan dapat tetap keren. Apalagi sembari diiringi lirik, “Ku tetap berdiri, apapun kuhadapi…Ku tetap berdiri, apapun kuhadapi…”. Jujur, saat itu saya iri.

Mungkin, kalau menurut saya pribadi kebencian yang ada pada APWG adalah simbolisasi keirian mereka terhadap PWG sebagai sebuah kumpulan anak muda yang sukses dalam melakukan apa yang mereka senangi: yakni bermusik. Dimana PWG sekarang mampu membuat mereka digilai yang akhirnya juga menjadi band yang digilai dalam arti sebenarnya. Suatu hal yang wajar jika dalam pasaran yang anak muda yang cenderung labil, maka sebuah fenomena dapat mengalami perbedaan penerimaan dalam kurun waktu yang tidak terlampau jauh. Suatu fase hidup yang memang sedemikian dinamis, sedinamis kadar fanatisme. Fanatisme memang hanya akan berujung pada kebencian, ketika kadarnya telah berlebih. Memang itu resiko dalam teenage market ini. Dan merujuk pada pengalaman saya malam itu, sejauh ini, PWG telah menunjukkan bahwa mereka mampu untuk menghadapi resiko tersebut. Dan bagi saya mereka mampu menghadapinya dengan cukup baik. Hingga membuat saya iri. Dan sebaiknya saya sudahi saja tulisan ini, sebelum saya menjadi terlampau fanatic juga terhadap PWG, dan lalu menjadi APWG sesaat setelah saya akut dalam memfanatismekan PWG itu sendiri…Semoga tidak.

Nb: saat saya dalam perjalanan pulang ke Malang, saya masih merasakan bagaimana PWG telah benar-benar menjadi fenomena yang merakyat. Dimana ketika berada di terminal Bungurasih, saya dan teman-teman saya yang juga kebetulan adalah party-dorks disambut dengan sapaan khas APWG dari APWG yang ternyata ada (atau mangkal) di terminal bungurasih tadi. Dan saya pulang dengan heran…

my reply:

gw mau ngejawab pertanyaan kenapa RR dan PWG beda sambutan walaupun main back to back.
RR, superman is dead, the upstairs, dan pee wee gaskins, semua band yg berasal dari komunitas, dan kadang komunitas "terlalu sayang" sama bagian dari mereka sehingga bila "keluar dari lingkaran" kadang dinilai sebagai pemberontakan.. semua band yg lahir di komunitas dan berhasil "menyebrang" keluar lingkaran yg lebih besar mengalami proses ini, ini proses yg gakbs dielakkan bagi kita.. proses ini gak akan berhenti sampai akhirnya ada band lagi setelah kita dan band itu yg kemudian akan menjadi sorotan selanjutnya.. dalam kasus surabaya kemaren, Rocket Rockers udah mengalami hal itu sebelumnya (perlu diingat bahwa band ini baru aja merayakan hari jadinya 10 tahun yg lalu), mendapat lemparan bongkahan bangunan, ludahan di makassar, dan hal2 yg serupa sudah terlebih dahulu mereka lewati, dan sorotan selanjutnya adalah Pee Wee Gaskins, yg membuat kita menjadi "peserta ospek" selanjutnya.. kl fenomena PWG dan APWG lo bakal banyak denger cerita yg sama dari Modern Darlings-nya The Upstairs. bukan fanatik menurut gw kl orang mengekspresikan penghargaannya ke sebuah band, bukan worship namanya bila seseorang mengelukan sebuah band dengan caranya masing2, mereka cuma mau menjadi bagian dari band tersebut. Party Dorks, Modern Darlings, Rocket Rockfriends, semua adalah bagian dari keutuhan sebuah band itu sendiri. Bahkan APWG juga bagian dari kita. coba bayangkan betapa sepinya malam hari itu bila mereka tidak datang beli tiket dan meramaikan tempat itu dari sebelum kita manggung sampai kita selesai membawakan lagu terakhir? kita bakal main didepan siapa? membuktikan kepada siapa? ya, sebuah proses yg tak terelakkan.. but isnt this what we're all about? we're bunch of dorks trying to stand out doing all the things we like the most, some people will love and hate what we do, but we're doing this for the boys

thanks for the post! main2 lagi ke jakarta


from hai-online

PeeWee Gaskins tetap santai meskipun diacungi jari tengah oleh ratusan penonton di Surabaya.
( Penulis : Lika Aprilia )

"Kalian masih muda, jangan sungkan untuk protes pada kami. Kami datang untuk bersahabat," kata Dochi di sela-sela penampilannya di konser Indiefest di Surabaya Sabtu (3/10) malam tadi. Bukan tanpa alasan vokalis PeeWee Gaskins ini bilang gitu. Pasalnya, saat mereka manggung, para penonton Surabaya malah mengacungkan jari tengah sebagai tanda benci pada band asal Jakarta ini.

Ini bukan gara-gara penontonnya chaos. Terbukti waktu Rocket Rockers naik ke atas panggung, penonton memberikan sambutan meriah. Rocket Rockers dan PeeWee Gaskins malam itu emang tampil dengan konsep Back 2 Back, alias manggung bergantian setiap satu lagu. Tapi begitu PeeWee Gaskins naik panggung lagi, lautan jari tengah pun dimulai kembali. Bahkan dilengkapi dengan hujan botol air mineral ke arah panggung.

Usut punya usut, ternyata Surabaya emang punya satu komunitas sendiri yang bernama Anti Peskins. Dari namanya udah ketebak dong, apa kesamaan para anggota Anti Peskins? Yup, mereka semua membenci Pee Wee Gaskins. Tapi untungnya kebencian ini masih bisa dibilang wajar. Meskipun mereka terus menerus mencela dan mengacungkan jari tengah sepanjang penampilan PeeWee Gaskins, nggak ada satupun dari mereka yang bikin keributan ataupun rusuh.

Ini juga dibantu oleh tanggapan anak-anak PeeWee Gaskins yang sama sekali nggak tersulut emosinya. Mereka tetap tampil maksimal, dan tetap mengucapkan terimakasih pada penonton di akhir penampilan mereka. Salut!


Dochi 'PeeWee Gaskins' : "Kami Nggak Jelekin SID!"

Ini jawaban insiden jari tengah di Surabaya kemarin.
( Penulis : Adry Pratono )

Untuk mencari tau lebih detil soal insiden PeeWee Gaskins diacungi jari tengah Hai-Online menkorfirmasi langsung ke Dochi vokalis dan gitaris band ini. Berikut adalah petikan wawancara dengan Dochi Senin (5/10) siang.

Hai-Online: "Gimana sih cerita konser PeeWee Gaskins kemarin di Surabaya?"

Dochi: "Seru, PeeWee main bareng Rocket Rockers. Banyak kok yang nyanyi."

Hai-Online: "Tapi katanya banyak yang ngacungin jari tengah? Ada yang ngelempar botol segala ke panggung?"

Dochi: "Iya begitu kira-kira. Tapi gue perhatiin dari atas sih tetep banyak yang nyanyi kok. Pada ngaku nggak suka sama PeeWee tapi tetep pada nyanyi. Gue sih ngeles waktu dilempar botol. Tapi gue santai kok, hehehe...."

Hai-Online: "Menurut lo kenapa sampe kayak gitu?"

Dochi: "Sebenernya sih karena terprovokasi. Di Surabaya kan fans base Superman Is Dead, trus ada yang bilang PeeWee itu kalo manggung suka jelek-jelekin Superman Is Dead. Padahal isu itu nggak bener sama sekali. PeeWee beberapa kali nongkrong sama SID di Bali. Waktu Java Rockin Land kemarin juga PeeWee satu backstage sama SID dan kami nggak ada masalah sama sekali. Jadi isu Peewee Ngejelekin SID nggak bener"

Hai-Online: "Katanya sama Rocket Rockers juga begitu?"

Dochi: "Isunya juga begitu. Kami juga sama sekali nggak ada masalah sama Rocket Rockers. Dan kami membuktikan itu dengan satu panggung bareng Rocket Rockers. Sama Superman Is Dead tunggu waktunya aja, kami akan membuktikan"

Hai-Online: "Katanya ada gerakan anti PeeWee Gaskins segala ya? Lo ngeliatnya gimana?"

Dochi: "Katanya begitu. Tapi gue santai aja dan gue pribadi selalu berusaha ngebuktiin kalo PeeWee bisa melakukan yang terbaik. Yang nggak suka sama PeeWee gue liat sebagai bagian dari proses. Kalo ternyata kami bisa melewatinya di kemudian hari PeeWee Gaskins akan menerima hasil yang positif kemudian hari. Pujian kadang membuat lupa daratan, celaan membangun karakter"

Hai-Online: "Thanks Dochi!"

Dochi: "Sama-sama"


i'm so thrilled PWG got nominated,