Udah lama gak update blog, yaudah sekalian mau cerita proses pembuatan A Youth Not Wasted aja.. Jadi udah 6 tahun sejak Pee Wee Gaskins terakhir ngeluarin full album di 2010, Ad Astra Per Aspera. Tadinya next album rencananya berjudul Epilog, sebagai album perpisahan sama Alfarecords, label yang menaungi Pee Wee Gaskins selama 3 tahun. Ternyata kita tidak harus membuat Epilog untuk menyelesaikan kontrak, karena akhirnya DVD Live bisa dianggap sebagai penutup quota kontrak album. Well, sejujurnya kalau Epilog keluar gue akan sangat tidak puas. There was nothing new about that album. The sound we made, the songs we played, the graphics, the concept, nothing interested me personally. We needed something more, we needed something fresh, so we waited for so long to prepare for a new release. Tapi supaya gak absen karya, kami selalu ngeluarin EP di tiap ulang taun Aldy. Pertamanya kebetulan, tapi akhirnya dijadiin ritual aja. YAIGS EP 2012, Transit EP 2013, dan Extended Play (EP) 2014.


Sejak Rufio ke Jakarta dan Bali (lupa tahun berapa, mungkin 2009?) gue masih suka ngobrol-ngobrol sama Scott Sellers, gue dan Scott berteman cukup baik dan sering berhubungan via facebook dan whatsapp, tidak hanya urusan band, tapi kadang juga ngomongin hal gak penting, you know just daily what nots. Sampai akhirnya tahun 2014 Scott menawarkan mixing dan mastering di dia kalo mau keluarin album baru.

Scott tinggal di Rancho Cucamonga, California.


 Di tahun 2014 juga studionya Aldy, Beatspace, jadi. Kami mulai ngumpulin materi baru dan ngerekam ulang lagu yang mau dirilis di full album. Sambil nyicil, gue kirim beberapa materi ke Scott via Dropbox dan dia utak-utik dan kasih masukan. He liked it. Proses pembuatan album ini tidak seperti biasanya. Biasanya kami jamming di studio bikin lagu, terus lagu itu langsung kami rekam, dan ada deadline, The Sophomore kami selesaikan 3 bulan, dari pembuatan lagu sampai mastering, Ad Astra Per Aspera juga kurang lebih 3 bulan. Di pembuatan album ini, misalnya ada yang punya ide lagu, ngerekam demonya di rumah masing-masing, simpel; pake voicenote di handphone, lalu dibawa ke studio untuk dikasih denger ke Aldy, lalu Aldy langsung bikin aransemen drum dari awal lagu sampai habis, tanpa guide gitar. Jadi dia dengerin voicenotenya, diafalin partnya, dan take drum cuma dengerin metronome. Setelah itu, Ayi take guitar yang udah ada drumnya. Waktu Ayi take juga dia take sendiri, jadi gak ada intervensi dari personil lainnya, pure ide dia, kreatifitas dia, dan ide dia. Setelah Ayi, Sansan take gitar dia dengan proses yang sama, lalu gue take bass. Gue gak tau notasi yang dimainkan Ayi dan Sansan di tiap lagu, jadi setiap mau take gue kulik dulu kuncinya, lalu gue isi semau gue. Setelah gue selesai baru Omo take part dia. Selanjutnya vokal, 1 hari cuma boleh isi 1 lagu, supaya power dan mood terjaga. Saat dimana kami ketemu di studio bareng biasanya pas mau take vokal, Sansan dan Omo biasanya nanya grammar check untuk lagu bahasa Inggris yang mereka tulis, gue tambahin beberapa bait, dan lagu yang belum ada liriknya gue bikin di studio sebelum take, salah satunya Kertas Dan Pena. Proses ini berjalan santai, kami mulai recording 2014 awal dan selesai pertengahan 2015. Kami punya 15 lagu materi album, dan 60% lagu yang sudah kami simpan sebelumnya.

Penting: bikin kartu nama, tukeran kartu nama.
Scott mulai ngerjain contoh mixing beberapa lagu, salah satunya Sassy Girl yang pernah rilis duluan untuk Hai, itu hasil mixing dia, we liked it, tapi kurang puas. Sambil berjalan, kami mulai mikirin ini nanti rilisnya gimana, mau rilis sendiri dengan kapasitas seadanya, nanti ujung-ujungnya belum merata distribusinya udah dibajak duluan. Sayang soalnya, dengan animo yang segitu besar, kalau album baru keluar banyak sekali yang pengen punya tapi kalau album gak tersedia dengan baik, akhirnya mereka akan ambil dengan cara download ilegal. We needed a label. We needed a label with good reputations, we needed a label with good networking, and we needed a strategy. Sebagai digital strategist Pee Wee Gaskins gue mulai cari cari dan bikin plan untuk album ini. Lalu gue inget beberapa tahun silam, ketika Pee Wee Gaskins main di Manila untuk Sonic Boom Fest, ada satu orang yang mingle, kata temen gue yang band lokal sana, Typecast, dia orang label, lalu diakhir obrolan kami tukeran kartu nama, ternyata he works for Universal Records (Philippines). Lalu saat pertama kali gue ke Tokyo untuk Punk Spring (diundang untuk nonton, yang pada akhirya membawa Pee Wee Gaskins kesana setahun setelahnya untuk Summer Sonic) gue ketemu beberapa orang label lagi, ada Hopeless Records, Sony Music, dan lagi-lagi, Universal Records.


2013, katanya ada orang Hopeless Records Asia nanya-nanya Pee Wee Gaskins, dan akhirnya gue ketemu orangnya, Sameer Sadhu, dia megang Hopeless Asia (Exclude Jepang) dan base nya di Singapur. We hung out quite a lot and talked about possible projects in the future, salah satunya Pee Wee Gaskins sign sama Hopeless, tapi Hopeless masih fokus untuk rilis band US yang sudah established. Akhirnya kami cuma mewakili scene South East Asia aja. If ever we need help from them, or they need help from us, we got each other's backs. It's still super cool.

Di tahun yang sama gue diundang lagi ke Jepang untuk Punk Spring, jadi gue berangkat kesana sekalian main akustik 2x disana, yang satu lagi bareng idol group lol. Anyway, Punk Spring was fun, i get to meet and mingle with NOFX, Weezer, Lagwagon, Mayday Parade, and Akihiro Namba from Hi-Standard. How come, you ask? They gave me this super cool pass. Back stage selalu jadi momen yang penting karena gue bisa ketemu dan kenal orang industri disana. Selalu bawa kartu nama di momen seperti ini. Eventhough it's always tempting to take pictures with them, keep this as a priority: make sure they know your name and who you are and what you do. It'll last longer than just pictures.

me, too drunk to remember.
Selain back stage, momen penting lainnya gak akan gue lewatin dalam kesempatan kaya gini adalah after party. Karena gue akan ketemu lagi orang-orang itu dalam keadaan yang lebih santai. And since I already left an impression, gak akan susah untuk mulai ngobrol lagi. Kali ini gue ketemu beberapa orang label lagi yang sebelumnya gue temuin di back stage. Salah satunya? Yes. Ada orang Universal Records lagi. Mereka mau denger materi Pee Wee Gaskins, gue kasih denger You And I Going South, they liked it. Mereka rekomendasi untuk temuin Universal Indonesia. Tapi waktu itu belum kepikiran mau rilis sama Major.

Sesampainya di Jakarta biasanya gue akan keluarin "koleksi" kartunama dan gue email kalau gue udah balik ke Jakarta. Basa basi sih, like "hey i'm back in Jakarta now, it was nice to meet you, much gratitude" biar nyantol nama gue heheh.

Ok balik lagi, jadi materi A Youth Not Wasted udah kelar, terus dapet email dari Nukui Bogard, dia sempet nonton Pee Wee Gaskins waktu di Jepang, katanya dia suka dan mau bikin artwork, awalnya buat merchandise, tapi mumpung lagi mau keluarin album akhirnya gue tawarin untuk kerjain artwork album, dan dia mau. Gue gak brief banyak, tapi sepertinya dia research sendiri dan kirim beberapa artwork yang langsung kami suka. Sebelumnya dia pernah ngerjain artwork MXPX, NOFX, Lagwagon, Bowling For Soup, UK SUBS, dll. Pretty cool, huh?

Rekap: kami punya 15 lagu siap rilis, artwork udah setengah jadi, rilisnya gimana? Rino sempet ngajuin sebuah nama Major Label, tapi dealnya kurang bagus. Sempet ketemuan juga sama Erix Soekamti minta diproduserin, tapi dia maunya materi baru semua dan di take ulang sama dia. We didnt have the time dan sayang lagu-lagu yang udah siap ini. Jadi kami simpan saja untuk kerjasama berikutnya. Lalu sambil cek instagram ada yang ngetag foto, namanya familiar, oh gue inget, dia Dork, termasuk Dork awal-awal jaman basecamp masih di Mendawai. Dia ngetag foto baru abis beli sepatu Zero Hate x Saint Barkley, dan gue lihat locationnya Universal Music Indonesia. Gue iseng buka profilenya, ternyata dia emang kerja di Universal Music Indonesia. Gue komen minta kontek A&R Universal, dikasih, dan kami janjian ketemu.

Ternyata yang mau ketemu langsung pak Jan Djuhana, A&R Director Universal Music Indonesia. Cool ol' champ. Singkat cerita, Universal tertarik untuk release, dan menyerahkan proses kreatif sepenuhnya ke Pee Wee Gaskins. Management juga tetep Pee Wee Gaskins yang pegang. Pretty good deal, dapet network lebih besar. 15 lagu dipilah jadi 10, supaya isinya fresh dan karakter tiap lagunya kuat. Sisanya ditabung. Black And White, No Strings Attach, You Throw The Party We Get The Girls, dan 2 titel rahasia lainnya masih disimpen. Ini udah akhir tahun 2015, dan kami ngejar rilis di awal tahun 2016, jadi gak ngejar kalau dimixing Scott, dan hasilnya juga kurang maksimal karena dia ngerjainnya di rumah. Sayang banget mesti kehilangan nama Scott untuk di album ini, but we need to decide, and we decided to give the honor to Stephan Santoso.

Tanggal 4 Maret A Youth Not Wasted resmi release di iTunes dan menempati posisi ke 2, dibawah Adele.


So yeah, that's my side of the story.

A Youth Not Wasted udah jadi slogan Pee Wee Gaskins, nempel di bass gue, dipilih jadi judul album karena mewakili semua lagu yang ada di dalamnya, tentang masa muda yang tidak disia-siakan.

I hope you enjoy this as much as I do.

Cheers!

x Dochi

https://itunes.apple.com/id/album/a-youth-not-wasted/id1084205691


A Youth Not Wasted

Udah lama gak update blog, yaudah sekalian mau cerita proses pembuatan A Youth Not Wasted aja.. Jadi udah 6 tahun sejak Pee Wee Gaskins terakhir ngeluarin full album di 2010, Ad Astra Per Aspera. Tadinya next album rencananya berjudul Epilog, sebagai album perpisahan sama Alfarecords, label yang menaungi Pee Wee Gaskins selama 3 tahun. Ternyata kita tidak harus membuat Epilog untuk menyelesaikan kontrak, karena akhirnya DVD Live bisa dianggap sebagai penutup quota kontrak album. Well, sejujurnya kalau Epilog keluar gue akan sangat tidak puas. There was nothing new about that album. The sound we made, the songs we played, the graphics, the concept, nothing interested me personally. We needed something more, we needed something fresh, so we waited for so long to prepare for a new release. Tapi supaya gak absen karya, kami selalu ngeluarin EP di tiap ulang taun Aldy. Pertamanya kebetulan, tapi akhirnya dijadiin ritual aja. YAIGS EP 2012, Transit EP 2013, dan Extended Play (EP) 2014.


Sejak Rufio ke Jakarta dan Bali (lupa tahun berapa, mungkin 2009?) gue masih suka ngobrol-ngobrol sama Scott Sellers, gue dan Scott berteman cukup baik dan sering berhubungan via facebook dan whatsapp, tidak hanya urusan band, tapi kadang juga ngomongin hal gak penting, you know just daily what nots. Sampai akhirnya tahun 2014 Scott menawarkan mixing dan mastering di dia kalo mau keluarin album baru.

Scott tinggal di Rancho Cucamonga, California.


 Di tahun 2014 juga studionya Aldy, Beatspace, jadi. Kami mulai ngumpulin materi baru dan ngerekam ulang lagu yang mau dirilis di full album. Sambil nyicil, gue kirim beberapa materi ke Scott via Dropbox dan dia utak-utik dan kasih masukan. He liked it. Proses pembuatan album ini tidak seperti biasanya. Biasanya kami jamming di studio bikin lagu, terus lagu itu langsung kami rekam, dan ada deadline, The Sophomore kami selesaikan 3 bulan, dari pembuatan lagu sampai mastering, Ad Astra Per Aspera juga kurang lebih 3 bulan. Di pembuatan album ini, misalnya ada yang punya ide lagu, ngerekam demonya di rumah masing-masing, simpel; pake voicenote di handphone, lalu dibawa ke studio untuk dikasih denger ke Aldy, lalu Aldy langsung bikin aransemen drum dari awal lagu sampai habis, tanpa guide gitar. Jadi dia dengerin voicenotenya, diafalin partnya, dan take drum cuma dengerin metronome. Setelah itu, Ayi take guitar yang udah ada drumnya. Waktu Ayi take juga dia take sendiri, jadi gak ada intervensi dari personil lainnya, pure ide dia, kreatifitas dia, dan ide dia. Setelah Ayi, Sansan take gitar dia dengan proses yang sama, lalu gue take bass. Gue gak tau notasi yang dimainkan Ayi dan Sansan di tiap lagu, jadi setiap mau take gue kulik dulu kuncinya, lalu gue isi semau gue. Setelah gue selesai baru Omo take part dia. Selanjutnya vokal, 1 hari cuma boleh isi 1 lagu, supaya power dan mood terjaga. Saat dimana kami ketemu di studio bareng biasanya pas mau take vokal, Sansan dan Omo biasanya nanya grammar check untuk lagu bahasa Inggris yang mereka tulis, gue tambahin beberapa bait, dan lagu yang belum ada liriknya gue bikin di studio sebelum take, salah satunya Kertas Dan Pena. Proses ini berjalan santai, kami mulai recording 2014 awal dan selesai pertengahan 2015. Kami punya 15 lagu materi album, dan 60% lagu yang sudah kami simpan sebelumnya.

Penting: bikin kartu nama, tukeran kartu nama.
Scott mulai ngerjain contoh mixing beberapa lagu, salah satunya Sassy Girl yang pernah rilis duluan untuk Hai, itu hasil mixing dia, we liked it, tapi kurang puas. Sambil berjalan, kami mulai mikirin ini nanti rilisnya gimana, mau rilis sendiri dengan kapasitas seadanya, nanti ujung-ujungnya belum merata distribusinya udah dibajak duluan. Sayang soalnya, dengan animo yang segitu besar, kalau album baru keluar banyak sekali yang pengen punya tapi kalau album gak tersedia dengan baik, akhirnya mereka akan ambil dengan cara download ilegal. We needed a label. We needed a label with good reputations, we needed a label with good networking, and we needed a strategy. Sebagai digital strategist Pee Wee Gaskins gue mulai cari cari dan bikin plan untuk album ini. Lalu gue inget beberapa tahun silam, ketika Pee Wee Gaskins main di Manila untuk Sonic Boom Fest, ada satu orang yang mingle, kata temen gue yang band lokal sana, Typecast, dia orang label, lalu diakhir obrolan kami tukeran kartu nama, ternyata he works for Universal Records (Philippines). Lalu saat pertama kali gue ke Tokyo untuk Punk Spring (diundang untuk nonton, yang pada akhirya membawa Pee Wee Gaskins kesana setahun setelahnya untuk Summer Sonic) gue ketemu beberapa orang label lagi, ada Hopeless Records, Sony Music, dan lagi-lagi, Universal Records.


2013, katanya ada orang Hopeless Records Asia nanya-nanya Pee Wee Gaskins, dan akhirnya gue ketemu orangnya, Sameer Sadhu, dia megang Hopeless Asia (Exclude Jepang) dan base nya di Singapur. We hung out quite a lot and talked about possible projects in the future, salah satunya Pee Wee Gaskins sign sama Hopeless, tapi Hopeless masih fokus untuk rilis band US yang sudah established. Akhirnya kami cuma mewakili scene South East Asia aja. If ever we need help from them, or they need help from us, we got each other's backs. It's still super cool.

Di tahun yang sama gue diundang lagi ke Jepang untuk Punk Spring, jadi gue berangkat kesana sekalian main akustik 2x disana, yang satu lagi bareng idol group lol. Anyway, Punk Spring was fun, i get to meet and mingle with NOFX, Weezer, Lagwagon, Mayday Parade, and Akihiro Namba from Hi-Standard. How come, you ask? They gave me this super cool pass. Back stage selalu jadi momen yang penting karena gue bisa ketemu dan kenal orang industri disana. Selalu bawa kartu nama di momen seperti ini. Eventhough it's always tempting to take pictures with them, keep this as a priority: make sure they know your name and who you are and what you do. It'll last longer than just pictures.

me, too drunk to remember.
Selain back stage, momen penting lainnya gak akan gue lewatin dalam kesempatan kaya gini adalah after party. Karena gue akan ketemu lagi orang-orang itu dalam keadaan yang lebih santai. And since I already left an impression, gak akan susah untuk mulai ngobrol lagi. Kali ini gue ketemu beberapa orang label lagi yang sebelumnya gue temuin di back stage. Salah satunya? Yes. Ada orang Universal Records lagi. Mereka mau denger materi Pee Wee Gaskins, gue kasih denger You And I Going South, they liked it. Mereka rekomendasi untuk temuin Universal Indonesia. Tapi waktu itu belum kepikiran mau rilis sama Major.

Sesampainya di Jakarta biasanya gue akan keluarin "koleksi" kartunama dan gue email kalau gue udah balik ke Jakarta. Basa basi sih, like "hey i'm back in Jakarta now, it was nice to meet you, much gratitude" biar nyantol nama gue heheh.

Ok balik lagi, jadi materi A Youth Not Wasted udah kelar, terus dapet email dari Nukui Bogard, dia sempet nonton Pee Wee Gaskins waktu di Jepang, katanya dia suka dan mau bikin artwork, awalnya buat merchandise, tapi mumpung lagi mau keluarin album akhirnya gue tawarin untuk kerjain artwork album, dan dia mau. Gue gak brief banyak, tapi sepertinya dia research sendiri dan kirim beberapa artwork yang langsung kami suka. Sebelumnya dia pernah ngerjain artwork MXPX, NOFX, Lagwagon, Bowling For Soup, UK SUBS, dll. Pretty cool, huh?

Rekap: kami punya 15 lagu siap rilis, artwork udah setengah jadi, rilisnya gimana? Rino sempet ngajuin sebuah nama Major Label, tapi dealnya kurang bagus. Sempet ketemuan juga sama Erix Soekamti minta diproduserin, tapi dia maunya materi baru semua dan di take ulang sama dia. We didnt have the time dan sayang lagu-lagu yang udah siap ini. Jadi kami simpan saja untuk kerjasama berikutnya. Lalu sambil cek instagram ada yang ngetag foto, namanya familiar, oh gue inget, dia Dork, termasuk Dork awal-awal jaman basecamp masih di Mendawai. Dia ngetag foto baru abis beli sepatu Zero Hate x Saint Barkley, dan gue lihat locationnya Universal Music Indonesia. Gue iseng buka profilenya, ternyata dia emang kerja di Universal Music Indonesia. Gue komen minta kontek A&R Universal, dikasih, dan kami janjian ketemu.

Ternyata yang mau ketemu langsung pak Jan Djuhana, A&R Director Universal Music Indonesia. Cool ol' champ. Singkat cerita, Universal tertarik untuk release, dan menyerahkan proses kreatif sepenuhnya ke Pee Wee Gaskins. Management juga tetep Pee Wee Gaskins yang pegang. Pretty good deal, dapet network lebih besar. 15 lagu dipilah jadi 10, supaya isinya fresh dan karakter tiap lagunya kuat. Sisanya ditabung. Black And White, No Strings Attach, You Throw The Party We Get The Girls, dan 2 titel rahasia lainnya masih disimpen. Ini udah akhir tahun 2015, dan kami ngejar rilis di awal tahun 2016, jadi gak ngejar kalau dimixing Scott, dan hasilnya juga kurang maksimal karena dia ngerjainnya di rumah. Sayang banget mesti kehilangan nama Scott untuk di album ini, but we need to decide, and we decided to give the honor to Stephan Santoso.

Tanggal 4 Maret A Youth Not Wasted resmi release di iTunes dan menempati posisi ke 2, dibawah Adele.


So yeah, that's my side of the story.

A Youth Not Wasted udah jadi slogan Pee Wee Gaskins, nempel di bass gue, dipilih jadi judul album karena mewakili semua lagu yang ada di dalamnya, tentang masa muda yang tidak disia-siakan.

I hope you enjoy this as much as I do.

Cheers!

x Dochi

https://itunes.apple.com/id/album/a-youth-not-wasted/id1084205691


33 komentar:

Iqbal Maulana mengatakan...

Cool story, Cod. Di balik album ternyata byk proses dan cerita panjang yg byk orang-orang keren terlibat di dalamnya. Disaat dihadapi situasi dimana lo harus memilih, lo selalu bisa memilih dengan baik. A youth not wasted hasilnya. Keren

Randy Damario mengatakan...

Sempet penasaran yang mana hasil mixing scott, mana ytpwgt yang katanya mau di take lagi, kejawab disini

Angga Kurniawan Putra mengatakan...

ga sabar next albumnya kolaborasi sama scott seller sama erix soekamti hahaha

annes riboch mengatakan...

Akhirnya kejawab juga beberapa pertanyaan yg sempet kepikiran abis dateng di lauching album dan megang cd A Youth Not Wasted. Dari nama scott yg gak tercantum disana dan gimana proses akhir bisa join sama universal music indo. Sukses terus buat semua project pee wee gaskins kedepannya entah dengan siapa kalian bekerjasama nanti.

Farkhan Ghani mengatakan...

Sukses terus PeeWee! See ya at Summer Camp!

Jabbar Pamungkas mengatakan...

Slamet and sukses mas bro konco Alditsa, salam RFK...

Jabbar Pamungkas mengatakan...

Slamet and sukses mas bro konco Alditsa, salam RFK...

Ade Wahyu mengatakan...

kartu namamu kayak gimana cod? share dong

argo putra nugraha mengatakan...

sukses mas ! semua lagu di album baru totally fresh dah ! keep fighting and always creative ! di doain terus bisa segra tur keliling dunianya bareng PWG

Comment supported by

www.JacobsproKonveksiMurah.com

wahyudi hendra mengatakan...

Kenapa no string attach ga masuk ke album akhirnya terjawab

Unknown mengatakan...

Kontrak sama Universal berapa tahun, Mz?

Astito13 mengatakan...

menyerahkan proses kreatif sepenuhnya ke Pee Wee Gaskins. Management juga tetep Pee Wee Gaskins yang pegang. Pretty good deal <- sepenggal kalimat dari artikel lo dan gue menyimpulkan Universal Music ternyata keren ya cod, Good Major.

zamzam mohammed mengatakan...

Semua pertanyaan gue terjawab disini

zamzam mohammed mengatakan...

Semua pertanyaan gue terjawab disini

kucing kecil mengatakan...

Gila, prosesnya panjang juga ya..

kucing kecil mengatakan...

Gila, prosesnya panjang juga ya..

Eka Rohaniah mengatakan...

cool story! poin dari postingan ini bahwa proses tidak pernah mengingkari hasil and the power of connection :)

Unknown mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Nata Exvrill mengatakan...

Keren Pee Wee Gaskins, dan gue rasa kalian band pop punk/inherit pop punk no 1 di Indonesia, Go ahead!

Muhammad Ilham K mengatakan...

Awesome cod! Btw 5 lagu yang ditabung bakal rilis jadi EP lagi kah?

Triaji Nugroho mengatakan...

Yang kecewain dlu. Yang katanya mau rilis cd sama dvd baru malah di cancel. Padahal udah "wham gw pengen punya dvd ini".apakah dvd itu akan dibuat ato gk? Dijawab pliss

Unknown mengatakan...

bang kasih penjelasan arti lagu sassygirl dong

Aldi Ripani mengatakan...

Mantap gan artikelnya :D ... aldiripani.com - Aldiripani - Artikel Dunia dan Akhirat, Tutorial Lengkap, Tip dan Trik, Cara Terbaru, Materi Kuliah Online, Agama Islam, Anime, Manga dan Vocaloid

Ghauhar El-Naqfi mengatakan...

keren nih bang.. izin share

Abitd Muhtadin mengatakan...

Pas gue denger di Spotify, ada yg beda di lagu YAIGS. Di mixing nya pas banget buat semua lagu di album "A Youth Not Wasted". Awesome album!!

Aga Pradnya mengatakan...

Keren albumnya kak. Banget. Familiar gitu nada-nadanya. Tapi Just Friend tetep aja lebih enak yg orchestra heuheu
mampir mampir ke blog saya ya heheehehe http://backonduty.blogspot.co.id/

Biqi Kurniadi Syafar mengatakan...

mantap bang dochi kerja kerasnya untuk new albumnya, semoga sukses selalu salam kenal gw biqi adiknya BiMA - ARCK :)

damhca Thaxton mengatakan...

yang sering update blog nya dong bang dochi.

http://plazaherbal.id/glucoblock-obat-diabetes/

http://plazaherbal.id/obat-diabetes-terbaru/

http://plazaherbal.id/qnc-jelly-gamat-atasi-segala-penyakit/

Jual Kondom mengatakan...

nice post, thanks for sharing..
Toko Jual Kondom Online http://sediakondom.com/ Sedia Kondom Terbaik Favorit Pria Wanita.
Jual Kondom | Kondom Duri | Kondom Gerigi | Kondom Getar.
http://sediakondom.com/category/kondom-berduri/
http://sediakondom.com/category/kondom-bergetar/
http://sediakondom.com/category/kondom-polos/
http://sediakondom.com/category/kondom-wolftooth/
http://sediakondom.com/category/kondom-bergerigi/

Muhammad Abduh mengatakan...

Lu pinter amat sih bg!

Johan Setiyawan mengatakan...

mampir yuk gaesss http://bit.ly/2a9kgh4

Hitomi Takahashi Mura mengatakan...

numpang link Pengobatan Tradisional Untuk Penebalan Dinding Rahim

Safal Trading mengatakan...

your post was so interesting I enjoyed reading this

Gold Jackpot Call