4 bulan berlalu sejak Nina lahir di dunia, punya anak perempuan udah jadi keinginan gue dari lama, dan dengan jalan hidup yang gue siapkan pula. Maksudnya gimana?

Gini.

Gue lahir di Jogja tapi pindah ke Jakarta dari gue seumur jagung. Lupa tepatnya umur berapa yang pasti dari TK gue udah di Jakarta. Haha. Ayah dan Ibu semangat sekali bekerja, menyiapkan bekal untuk gue kelak. Tentu saja ada yang perlu dibayar; waktu. Gue gak mengeluh sih, tapi ya denger cerita sih dulu sering ngambek juga ditinggal kerja pas lagi kangen-kangennya. Pernah suatu hari gue ngumpetin kunci mobil supaya mereka gak bisa pergi, dan gue pura-pura tidur. Tapi ternyata mereka tetep pergi, karena punya kunci cadangan. Hahah. Cara mereka “membayar” adalah dengan bawa oleh-oleh, sehingga jadi kebiasaan. Setiap mereka pulang gue semangat menyambut sambil nodong oleh-oleh.

Hiburan gue TV, dan video VHS. Di rumah sama pembantu, dan pembantu suka ngunci gue di rumah dan membiarkan gue nonton tv, sementara dia main sama pembantu tetangga. Tapi gue tetep disiapin makanan kok. Rutinitas itu yang membuat gue punya “temen”. Nanny bule yang nemenin gue di rumah sampe gue SD. Namanya Jessica. Dia ngomongnya pake bahasa Inggris. Dia yang bikin gue bisa bahasa Inggris tanpa les, bahkan sebelum gue belajar bahasa Inggris di sekolah, and this is the best part: she ain’t real.

Gedean dikit, gue main sama temen-temen komplek. Gue sama kk gue beda 5 taun, dan gue juga bergaul sama anak seangkatan kk gue di komplek. Tentunya uang jajan mereka pasti lebih banyak dari gue. Waktu itu ada tukang es krim lewat dan gue mau jajan tapi ga punya uang, dan waktu itu ada temennya kk gue lagi main ke rumah, gue tau dia pasti bawa uang jajan karena baru saja pulang sekolah dan masih pake seragam. Ya, dia juga anak yang orang tuanya bekerja jadi anak-anak suka main ke rumah biar pada ngumpul dan ngga kesepian, dan waktu itu Ayah baru beli Sega buat kami, rumah kami jadi basecamp anak-anak komplek. Anyway, yes gue mau es krim tapi ngga punya uang, dan kk gue pelit banget udah pasti gue ga akan dikasih kalau minta. Jadi gue ke halaman belakang dan ambil salah satu batu warna putih yang ada di belakang. Lalu gue mulai pitching ke temen kk gue.

Gue: “Mas, Ayah kemaren dapet oleh-oleh dari temennya, mau lihat ngga?”
Mas Dion: “mana liat dong”
Gue: “tapi ini rahasia, kalau pada tau nanti pada minta”
Mas Dion: “mau dong liat”
Gue: “ini ada batu dari bulan, warnanya putih, mau pegang ngga?”
Mas Dion: “ah masa, mau dooong pegang”
Gue: “boleh tapi beliin es krim ya”

That’s my first business pitch.

Growing up, I never realized what my passion was, one thing I did know was that I always have a heart for music. Everywhere we go we always listen to the music our Dad play on the car audio. He bought me a set of mini drums and that was my first introduction to musical intruments.

Family means everything to me. It shaped me to the person I am now. Tapi gue gak mau lakuin apa yang orang tua gue lakuin, gue harus punya solusi agar waktu gue bisa lebih banyak di rumah tapi tetap bisa kerja. Keputusan gue masuk IPS di SMA yang membuka jalan lagi buat gue: kewirausahaan.

Long story short gue mengorbankan kesempatan bekerja normal dengan gaji konstan dengan segala apa yang gue punya. Yang akhirnya menjadikan gue seorang “musisi pedagang”.

Beruntung sekali saat semua sudah pada jalannya, Anila lahir.

Kalau lo baca di post-post sebelumnya, lo akan baca usaha gue untuk selalu hadir buat Nina. Semoga tidak ada yang terlewat.

Semua belajar.

Ganti popok, mandiin, gendong, gimana kalau dia nangis, kenapa dia nangis, kenapa bangun, kenapa kurang tidur, kenapa nangisnya teriak-teriak, apa itu kolik, gimana kalau susunya Tasya ngga keluar, semua dilewatin dan harus tetep sabar, karena punya anak bayi itu ngga gampang (belum ngerasain punya anak kecil, atau anak gede).

Mungkin akan nulis lebih detail lagi tentang pengalaman sama Nina, di post selanjutnya.

Hanya untuk bahan pikiran kali ini, semua orang tua sayang sama anaknya dengan caranya sendiri, we should love them the same: with all our heart.

Sehat terus ya, Nina.



Pasca Anila

Tasya si penakut yang pemberani.


Gue ngga tau kalo orang lain gimana tapi selama kehamilan, Tasya berubah jadi orang yang amat sangat cemburuan, like parah, I don't know if its hormonal but we fought a lot, dan ya, tried my best not to argue. Contoh beberapa hal yang membuat berantem yang rasanya ampe mau ditalak:

- komen ke instagram cewe cantik walaupun itu temen gue (karena ini kami ngga saling follow di instagram, baru setelah Anila lahiran saling follow lagi)
- bahas masalah yang sudah lama lewat yang melibatkan mantan
- minjemin barang ke mantan yang kebetulan lagi butuh barang tsb

Pernah kami berantem sampe dia berkemas koper dan masukin passport. mo kmana bu? Hihi 

Waduh, rasanya kalo berantem tuh kaya kaki di kepala dan kepala di kaki. Sampe at some point dia gak percayain gue untuk ada di ruangan saat dia menjalani prosesi persalinan. Karena itu, dia minta adanya Doula. Apa itu Doula? Gue juga baru tau, ternyata Doula itu dari bahasa Yunani artinya "hamba wanita," kalau menurut bahasa Inggris:

a woman who is trained to assist another woman during childbirth and who may provide support to the family after the baby is born.

Dan kebetulan Nujuhbulan juga menyediakan fasilitas ini sepaket sama kelas Child Birth Education. Di sini kami kenalan sama Mba Sinta & Mba Imu. Gue ngga terlalu peduliin dia bilang nanti gue ngga boleh ada di samping dia waktu lahiran, yang penting dia tenang dan bisa lewati semua prosesnya. Setiap ada cekcok, ngalah terus pokoknya. Ego gue bener-bener gue bungkus koran dan dilempar keluar jendela mobil di Bantar Gebang. Apa itu pride? Udah di un-install dari system. Yang penting Tasya sehat, mentally and physically.

Doula juga membantu kami bikin birthplan, yang isinya termasuk mau lahiran di mana, dokternya siapa, normal atau cesar, mau menggunakan painkiller apa ngga, nanti di ruang observasi siapa aja yang boleh di dalam, di ruang bersalin siapa aja, request apa saja nanti, siapa yang potong tali pusar, dll. Dan nama gue selalu ada di situ sih hehe. Tentunya bukan sebagai dokter pilihannya.

1 Mei 2017
Di HP gue udah siap aplikasi penghitung jarak kontraksi, dan ketika jaraknya udah per 10 menit dan konstan, akhirnya kami langsung berangkat ke KMC (Kemang Medical Care) bawa koper yang udah disiapin di dalam mobil. Perjalanan dari Bintaro ke Kemang: 1 jam.
Sampe sana jam 10 pagi Tasya cek CTG (rekam jantung) dan ternyata masih kontraksi palsu, belum ada pembukaan. Disuruh balik 3 jam lagi. Karena mager balik lagi ke Bintaro akhirnya kami stay di rumah tante gue di Jl. Cipaku, 15 menit lah dari KMC. Di situ deket banyak tempat makan kesukaan Tasya. Jadi lumayan lah staycation di sana.
Jam 14.00 periksa CTG lagi daaan pembukaan 2! Dikasih pilihan mau stay di RS atau balik, kami pilih balik ke Cipaku. Udah semakin dekat nih dan di pikiran Tasya udah bukan takut lagi tapi pengen cepet-cepet anaknya keluar dan ketemu. Yoga lagi biar lancar. Jam 17.00 balik ke KMC dan naik ke pembukaan 4. Tasya pindah ke ruang observasi dan kami panggil Mba Sinta Doula ke lokasi.
Jam 19.00 kontraksinya udah mulai sakit, Ibunya Tasya dateng nemenin. Gue juga di situ terus. Hari itu gue dan Tasya ngga tidur, ngelewatin bukaan demi bukaan. 

2 Mei 2017
One sleepless night. Tasya sempet tidur ayam sejam dua jam. Gue ngga bisa tidur sama sekali. Hari ini Anila 40 minggu 5 hari di dalam perut. Betah banget dia ya. Dokter memperkirakan jam 4 sore lahir. Tapi jam 4 itu masih bukaan 7.
Di sini Ibunya Tasya kasih semua emotional support yang bisa diberikan, rasanya kaya liat Tasya minta ijin ke Ibunya untuk melahirkan. Minta maaf, minta restu.

 
 

Cri. Bukaan 8 tapi kontraksinya mulai renggang lagi, berkali-kali dia bilang kalau dia udah ngga kuat lagi, antara minta cesar atau ngga kuat mau die.. tapi kita terus semangatin dia, Tasya kuat! Dokter usul untuk pecahin ketuban. Tasya udah ngga nanya sakit apa ngga, akhirnya ketuban dipecahin, ngga lama naik bukaan 9.

 

Jam 18.00 bukaannya ngga nambah, dokter suggest untuk akselerasi, kalau di bukaan awal namanya induksi, and guess what? Diinfus. Tasya si penakut yang takut banget diinfus, yang memilih lahiran normal karena takut diinfus kalau cesar, mengijinkan badannya diinfus demi bayinya.

 

Ini gue kipasin karena setiap kontraksi dia kepanasan. Dan setiap abis kontraksi langsung kedinginan.

 

Waktu kepala Anila mulai keliatan gue pindah posisi, dari samping Tasya jadi pas di depan selangkangannya. Posisi gue digantikan sama Ibunya.

 

18.25 Anila lahir dan langsung gue azanin sambil nangis. Bahagia sekali rasanya lihat dia. 

 

Setelah begadang akhirnya ketemu juga sama Anila. Ibu dan Ayah gue baru aja dateng dari Semarang abis ada kawinan sodara, akhirnya bisa dateng juga di hari H. Gue potong tali pusatnya Anila. 



Beautiful baby. Anila Kamaishtara Décca -- artinya angin sejuk pembawa cinta setinggi bintang. Lahir dengan berat 2,89kg dan panjang 48cm, hari Selasa 2 Mei 2017.

 

Support system. Mba Sinta & Mba Imu (Nujuhbulan), Dr. Achmad Meidiana, Ibu, Ibu, Syifa.




Jadi dia mirip siapa?


Langsung masuk berita 😂

End of part 3 - fin.

Looking back: Sebelum Anila (Part 3)


Seorang teman baru aja cerita kalau mereka mau cerai, gue ngga tau harus merasa apa.

Kita ngga tau apa yang kita punya sampai itu hilang.. gimana kalau kita tau bahwa apa yang kita punya akan diambil dari kita, dan bagaimana kalau kita tau tepatnya kapan itu akan hilang? apakah itu akan membuat kita merasa... kalau apa yang kita punya sekarang akan hilang? Akankah kita lebih menikmati dan menghargainya di sisa waktu yang kita punya?

You know, we're all happy and fee as long as we can f#ck as much as we want. Gue pikir kalau kita bisa terima kenyataan bahwa hidup memang seharusnya sulit, dan itu yang kita harapkan bahwa hidup memang sulit, mungkin kita ngga akan terlalu kesel menyikapinya dan kita akan yaudah seneng aja ketika ada hal menyenangkan terjadi.

Apa yang paling menyebalkan ketika orang mutusin kita adalah waktu lo inget terakhir kali lo mutusin orang lo segitu ngga mikirinnya perasaan orang yang lo putusin, dan sadar orang yang mutusin lo sekarang segitu ngga mikirinnya perasaan lo. Hehe, lo kira kalian sama sakitnya sementara dia cuma "hey, gue seneng lo udah gak ada".

Gue rasa gue bener-bener jatuh cinta kalau gue tau semuanya tentang orang itu - ke bagian mana dia akan membelah rambutnya, tau cerita apa yang akan dia ceritakan dalam situasi tertentu, tau apa baju dan sepatu yang dia akan pakai hari itu, itu saat dimana gue tau kalau gue jatuh cinta. Seperti merasakan dia lagi ngeliatin gue saat gue ngga liat.

Tapi di pernikahan, semuanya lebih rumit. Kadang rasa sayang udah ngga jadi ukuran dan lo hanya menjalani karena tanggung jawab, lo ngga bisa berharap pasangan lo terus merasakan hal yang sama kalau apa yang kalian lakukan itu itu aja. Tapi gpp. Pernikahan butuh kerja keras, tapi sebenernya ngga juga, ngga masuk akal ya? Ya kalau lo selalu mengharapkan cinta itu ngga mesti ngapa-ngapain, mungkin lo salah spesies. Manusia memang diciptakan untuk selalu beradaptasi, selalu belajar. Cinta memang ngga selamanya kerja keras, just make it work. Gue punya beberapa teman yang lebih bahagia di pernikahan yang ke dua, tapi... Untuk berapa lama? Akan selalu ada masalah.

Berhenti berharap orang yang tepat untuk lo, mulai jadi orang yang tepat untuk mereka.

And if you can't be with the one you love, love the one you are with.

Please stay together. I love you guys.

 

Blab.

Sebelum ada Anila, Oggy hadir di hidup kami dan mengajarkan kami tanggung jawab dan compassion, sebelum akhirnya dikasih anak di tahun ke dua pernikahan kami, terlebih untuk Tasya yang pasca menikah merasa lebih all out, serasa lepas dari semua aturan rumahnya, punya anak rasanya bukan pilihan 😂. Oggy tidak sempurna, walaupun kupingnya besar tapi dia tidak bisa mendengar. Tidak bereaksi sama suara.

 

Kalau ngga ada Oggy, mungkin hubungan kami udah chaos. He is here with us for a reason, a good cause dan kami rawat dia dengan sebaik-baiknya.

Awal kehamilan Tasya mikir kalo dia udah pasti cesar, karena ketakutannya ngga akan bisa melewati proses persalinan. 

"Gimana kalo aku pingsan di tengah jalan? Ada ngga sih orang yang panik waktu bersalin terus ngga kuat?" Pertanyaan-pertanyaan seperti itu ngga jarang keluar dari dia. Untungnya kami ketemu Dokter Achmad yang pro-normal. Tau ngga kalo di luar negeri cesar itu bukan pilihan? Kalau bisa normal, dan tidak ada keadaan darurat, cesar itu tidak boleh. They encourage mothers to do normal labor. Did I tell you about how Tasya is very afraid of needle? Akhirnya bukan "cesar awalnya doang ngga sakit tapi setelahnya sakit" yang membuatnya memutuskan untuk mempersiapkan diri untuk lahiran normal, tapi karena tau kalo cesar dia diinfus. Yes, ada yang buat dia lebih takut dibandingkan disuntik -- diinfus.

Gue menemaninya mencari info sebanyak-banyaknya. Dari ILA, epidural, episiotomi -- yang artinya kalian Google sendiri aja -- sampe child birth education, pengetahuan laktasi, hypnobirth, dan segala ina inu tentang lahiran dan bayi. Walaupun gue tau dia takut, tapi gue tau juga kalau dia mempersiapkan diri, dan itu yang bikin gue selalu ada di belakang dia, untuk mendorong dan jalanin ini bareng.

Sesekali kami liburan supaya Tasya ngga stress, kemana aja Anila waktu di dalam perut?

 

Nonton MMA di JCC Senayan. Tapi ngga sampe abis, baru sampe fight ke 3 Tasya ngga betah dan mau pulang. Ini saat-saat Tasya masih menolak jadi Ibu. It was the worst. But this too shall pass.

 

Main ice skating di Bintaro Xchange. She's pretty good for a newbie sedangkan kaki gue terkilir di sini karena salah jatuh. Haha.


Berenang di Tanjung Bira, Sulawesi Selatan. Setelah Pee Wee Gaskins manggung di Rock In Celebes Makassar, kami naik mobil 4 jam ke Tanjung Bira.



Makan steak di Bandung. Om Dendy megang franchise Holyribs dan kami nyobain ke sana.

 


 

Ngadem di Kyoto. Karena Jakarta panas kami cari tempat terdekat yang ada winter, so we flew to Japan.


Makan Takoyaki di Osaka. The best.



Makan tempura di Tokyo sama Bakky & istri. Pertama ketemu Bakky di Jakarta, waktu itu dia masih kerja di Jakarta dan ternyata temennya anak-anak Totalfat, dan waktu Totalfat main di Jakarta dia ikut, we became friends.



Ketemu Hachiko di Shibuya.

 

Jalan-jalan hamil di Omotesando. Dia seneng banget akhirnya perut keliatan gede di foto. Hari ini usia kehamilan 23 minggu.

 

Ngopi sama Eliott Blessthefall & pacarnya di Dover Street Market. Ini ke dua kalinya ketemu Eliott di Jepang, pertama taun 2013 (atau 2014?) waktu Blessthefall main bareng Coldrain di Tokyo. 

 

Ujan-ujanan di Harajuku.


Ghibli Museum di Mitaka.



Laundry di Minato.

 

Naik sepeda di Sasazuka.

 

Nonton Tycho di Shinagawa.

 

Grocery shopping di Costco.

 

Pergi sama Ibu ke Central Park.

Oh baby, the places you'll go..


End of part 2.


Looking Back: Sebelum Anila (part 2)

Gue menulis ini karena pasti ada diluar sana pasangan yang merasa belum siap punya anak, atau yang pengen punya anak tapi merasa takut menjalani proses menjadi ibu, atau suami yang hanya berperan sebagai suami, bukan jadi Ayah. Ini proses yang gue lewati dan semoga bisa saling belajar.

Pada suatu hari di Linggar Seni, Kemang Timur, Tasya cemas karena belum juga mens padahal sudah waktunya. Sedangkan gue ngga merasa curiga karena biasanya juga ngga kenapa-kenapa walaupun telat sampe seminggu. Tapi untuk mengurangi rasa penasaran akhirnya gue beli test pack dan langsung coba besok paginya.
First pee in the morning result? Two stripes! Dan Tasya waktu itu shock banget, serasa her world felt literally crumbles in front of her. Kami pasangan muda yang masih ingin menikmati perjalanan berdua, pencarian pencapaian dan belajar pembuktian. I was shocked too. Tapi mencoba untuk lebih tenang, because deep inside, i DO want this. Mungkin false reading? So minggu itu kami cek 4x dan semua test pack garisnya 2 

 

Perasaan ngga karuan saat itu karena Tasya merasa belum siap dan bahkan consider untuk -sigh- i can't even write this down.. Rumah sakit pertama yang kami datengin RSIA Asih dan kami bertemu Dr. Amru. Tasya di USG dan ternyata kantong janinnya belum terlihat, karena belum ada 2 minggu. Ya sudah kami pulang dengan perasaan ganjel. Jadi ini hamil apa ngga? Kami disuruh cek lagi minggu depan. 

 

Besoknya, karena gue gak tahan diperjalanan Tasya rungsing pengen tau hamil apa ngga akhirnya gue mampirin Brawijaya Women & Children Hospital. Lalu setelah dicek? Kantung janinnya kelihatan! Jadi setelah 4x test pack dan 2x USG akhirnya dokter ketok palu bahwa Tasya fix hamil. How did I take the news? Kind of a mixed feelings. Overjoyed in desperation, melihat Tasya didn't want to get through all the process of pregnancy and labor. Mau disuntik aja harus nangis dulu, dan merasa mengurus diri sendiri aja belum bisa apalagi harus mengurus anak. Belum lagi gimana kalau nanti ASI tidak keluar? Atau harus cesar? Atau.. atau.. atau... Tapi gue selalu berusaha menenangkan. Tried to be there all the time, sampai akhirnya gue memutuskan 4-5 bulan ngga ikut Pee Wee Gaskins ke luar kota because my wife needs extra emotional support. And I didn't regret that decision. 

 

 

Selanjutnya gue cari lingkungan yang lebih kondusif karena sebelumnya kami kost berdua di daerah Kemang. Akhirnya kita dapet tempat di Bintaro. Kebetulan satu komplek sama kk gue. Kami ngelewatin masa masa hamil dan melahirkan di sini (ngga bisa di rumah mertua karena ada Oggy - the dog) di dekat rumah ada studio yoga pra natal Nujuhbulan, yang kedepannya membantu kami melewati masa-masa sulit. Next, cari dokter! Mengikuti beberapa referensi akhirnya memilih Dr. Achmad Meidiana yang kliniknya deket banget sama Linggar Seni. Dan hari pertama kani ke sana di TV lagi play proses persalinan dan Tasya langsung nangis liat itu 😁. Tapi begitu ketemu Dokter Achmad sepertinya langsung cocok, karena dia bukan tipe yang sugarcoat. Yang bilang ngga sakit kalo emang sakit, gak boong-boong menenangkan, dan kami cocok yang seperti itu. Hasil periksa pertama bagus. Gak ngerti jadinya kalo kami gak ketemu Dokter Achmad.

End of part 1.


Looking Back: Sebelum Anila (part 1)

 Gue ingat betul saat pertama kali gue menunjukkan minat di musik. Gue pukul-pukul meja ngikutin beat drum dari lagu yang gue denger. Lalu bokap belikan gue drumset kecil. Tak terasa, sekarang gue jadi bassist. Sebuah perjalanan panjang yang menyangkut aktualisasi diri dan adaptasi.

Gue ingat betul saat pertama kali gue berbisnis. Waktu itu umur 6. Gue yang masih kecil dan tidak punya uang jajan itu sedang bergaul dengan kawanan kakak gue yang 5 tahun lebih tua, saat itu penjual es krim lewat depan rumah dan gue pengen, tapi sekali lagi, tidak punya uang jajan. Beda dengan kawanan kakak gue yang sudah dikasih uang jajan. Akhirnya gue ambil batu kerikil warna putih di pekarangan rumah dan gue cuci hingga bersih, dan mulai pitching: "kemaren ayahku dapet hadiah dari temennya, ini batu dari bulan, keren ya" lalu gue tawarkan ke kawan kakak gue, gue berhasil tukar batu itu dengan es krim yang gue mau. Tak terasa, sekarang gue bikin brand dengan logo es krim.

Begitu juga dalam band. Gue ingat betul pertama ngajak Sansan take vokal lagu yang sudah gue rekam sebelumnya, judulnya Remember The Titans, dari judul film yang dibintangi Denzel Washington. Tentang tim football yang menang despite racial slurs pada eranya. Melewati masa dimana satu mobil disetir satu orang menuju satu tujuan, sampai akhirnya setiap penumpang belajar menyetir di mobil masing-masing, not sure about the destination, but we just like to drive. Maybe it just didn't matter where we headed, we enjoyed the journey anyway.

Kami adalah regenerasi skena pada masanya. Saat kancah pensi ramai dengan Modern Darling-nya The Upstairs, Goodnight Electric, dan emo revivals, kami membuat lingkaran baru yang terbuka untuk siapa saja. Pee Wee Gaskins, Thirteen, Killing Me Inside, The Old Curse Of Death. Gue merindukan masa dimana setiap weekend kami berkumpul di bilangan Kemang dan saling bertanya, "hari ini siapa yang main, dimana?" Menggerakkan sebuah komunitas dengan basis "Top 8 Myspace" di laman kami masing-masing. Menggunakan social media sebelum "Youtube lebih dari TV", menempelkan poster acara, menyebar flyers, dan sesekali bila beruntung, dapat dukungan dari radio. Tidak pernah terpikir untuk intimidasi, jumawa, dan mencoba merangkul semua yang sejalan. Karena regenerasi bukan berarti mematikan atau mendiskredit generasi sebelum, tapi melestarikan apa yang sudah ada supaya umurnya bisa panjang.

Tentu saja, tidak semua berjalan lancar, tidak semua bisa menerima perubahan.

Gue ingat isu pertama yang mencoba menjegal Pee Wee Gaskins. Saat itu kami mendapat tawaran untuk main di acara komunitas di De Javu, sebuah klub kecil di bilangan Thamrin, walaupun belum di-iya-kan panitia memasukkan Pee Wee Gaskins dalam poster acara. Dan manajer kami waktu itu mendapat tawaran untuk main di pensi besar sebuah sekolah di Jakarta pada tanggal yang sama. Walaupun kami sudah konfirmasi bahwa Pee Wee tidak bisa ikutan gigs De Javu itu, nama kami sampai hari H belum dicabut dari line up. Tentu saja, opini mulai tergiring. "Wah udah lupa sama komunitas, sekarang main di pensi", "wah udah mainstream sekarang, lupa sama gigs" dan lain lain.

Don't be afraid of change, you may lose something good, but you may gain something better.

9 tahun, 3 full album, 4 EP, dan 1 live DVD berlalu.

Sudah saatnya regenerasi.

Scene butuh pergerakan masif supaya umur bisa panjang.


Siap untuk perubahan?

INHERIT POP PUNK!

Tentang Perubahan.

Udah lama gak update blog, yaudah sekalian mau cerita proses pembuatan A Youth Not Wasted aja.. Jadi udah 6 tahun sejak Pee Wee Gaskins terakhir ngeluarin full album di 2010, Ad Astra Per Aspera. Tadinya next album rencananya berjudul Epilog, sebagai album perpisahan sama Alfarecords, label yang menaungi Pee Wee Gaskins selama 3 tahun. Ternyata kita tidak harus membuat Epilog untuk menyelesaikan kontrak, karena akhirnya DVD Live bisa dianggap sebagai penutup quota kontrak album. Well, sejujurnya kalau Epilog keluar gue akan sangat tidak puas. There was nothing new about that album. The sound we made, the songs we played, the graphics, the concept, nothing interested me personally. We needed something more, we needed something fresh, so we waited for so long to prepare for a new release. Tapi supaya gak absen karya, kami selalu ngeluarin EP di tiap ulang taun Aldy. Pertamanya kebetulan, tapi akhirnya dijadiin ritual aja. YAIGS EP 2012, Transit EP 2013, dan Extended Play (EP) 2014.


Sejak Rufio ke Jakarta dan Bali (lupa tahun berapa, mungkin 2009?) gue masih suka ngobrol-ngobrol sama Scott Sellers, gue dan Scott berteman cukup baik dan sering berhubungan via facebook dan whatsapp, tidak hanya urusan band, tapi kadang juga ngomongin hal gak penting, you know just daily what nots. Sampai akhirnya tahun 2014 Scott menawarkan mixing dan mastering di dia kalo mau keluarin album baru.

Scott tinggal di Rancho Cucamonga, California.


 Di tahun 2014 juga studionya Aldy, Beatspace, jadi. Kami mulai ngumpulin materi baru dan ngerekam ulang lagu yang mau dirilis di full album. Sambil nyicil, gue kirim beberapa materi ke Scott via Dropbox dan dia utak-utik dan kasih masukan. He liked it. Proses pembuatan album ini tidak seperti biasanya. Biasanya kami jamming di studio bikin lagu, terus lagu itu langsung kami rekam, dan ada deadline, The Sophomore kami selesaikan 3 bulan, dari pembuatan lagu sampai mastering, Ad Astra Per Aspera juga kurang lebih 3 bulan. Di pembuatan album ini, misalnya ada yang punya ide lagu, ngerekam demonya di rumah masing-masing, simpel; pake voicenote di handphone, lalu dibawa ke studio untuk dikasih denger ke Aldy, lalu Aldy langsung bikin aransemen drum dari awal lagu sampai habis, tanpa guide gitar. Jadi dia dengerin voicenotenya, diafalin partnya, dan take drum cuma dengerin metronome. Setelah itu, Ayi take guitar yang udah ada drumnya. Waktu Ayi take juga dia take sendiri, jadi gak ada intervensi dari personil lainnya, pure ide dia, kreatifitas dia, dan ide dia. Setelah Ayi, Sansan take gitar dia dengan proses yang sama, lalu gue take bass. Gue gak tau notasi yang dimainkan Ayi dan Sansan di tiap lagu, jadi setiap mau take gue kulik dulu kuncinya, lalu gue isi semau gue. Setelah gue selesai baru Omo take part dia. Selanjutnya vokal, 1 hari cuma boleh isi 1 lagu, supaya power dan mood terjaga. Saat dimana kami ketemu di studio bareng biasanya pas mau take vokal, Sansan dan Omo biasanya nanya grammar check untuk lagu bahasa Inggris yang mereka tulis, gue tambahin beberapa bait, dan lagu yang belum ada liriknya gue bikin di studio sebelum take, salah satunya Kertas Dan Pena. Proses ini berjalan santai, kami mulai recording 2014 awal dan selesai pertengahan 2015. Kami punya 15 lagu materi album, dan 60% lagu yang sudah kami simpan sebelumnya.

Penting: bikin kartu nama, tukeran kartu nama.
Scott mulai ngerjain contoh mixing beberapa lagu, salah satunya Sassy Girl yang pernah rilis duluan untuk Hai, itu hasil mixing dia, we liked it, tapi kurang puas. Sambil berjalan, kami mulai mikirin ini nanti rilisnya gimana, mau rilis sendiri dengan kapasitas seadanya, nanti ujung-ujungnya belum merata distribusinya udah dibajak duluan. Sayang soalnya, dengan animo yang segitu besar, kalau album baru keluar banyak sekali yang pengen punya tapi kalau album gak tersedia dengan baik, akhirnya mereka akan ambil dengan cara download ilegal. We needed a label. We needed a label with good reputations, we needed a label with good networking, and we needed a strategy. Sebagai digital strategist Pee Wee Gaskins gue mulai cari cari dan bikin plan untuk album ini. Lalu gue inget beberapa tahun silam, ketika Pee Wee Gaskins main di Manila untuk Sonic Boom Fest, ada satu orang yang mingle, kata temen gue yang band lokal sana, Typecast, dia orang label, lalu diakhir obrolan kami tukeran kartu nama, ternyata he works for Universal Records (Philippines). Lalu saat pertama kali gue ke Tokyo untuk Punk Spring (diundang untuk nonton, yang pada akhirya membawa Pee Wee Gaskins kesana setahun setelahnya untuk Summer Sonic) gue ketemu beberapa orang label lagi, ada Hopeless Records, Sony Music, dan lagi-lagi, Universal Records.


2013, katanya ada orang Hopeless Records Asia nanya-nanya Pee Wee Gaskins, dan akhirnya gue ketemu orangnya, Sameer Sadhu, dia megang Hopeless Asia (Exclude Jepang) dan base nya di Singapur. We hung out quite a lot and talked about possible projects in the future, salah satunya Pee Wee Gaskins sign sama Hopeless, tapi Hopeless masih fokus untuk rilis band US yang sudah established. Akhirnya kami cuma mewakili scene South East Asia aja. If ever we need help from them, or they need help from us, we got each other's backs. It's still super cool.

Di tahun yang sama gue diundang lagi ke Jepang untuk Punk Spring, jadi gue berangkat kesana sekalian main akustik 2x disana, yang satu lagi bareng idol group lol. Anyway, Punk Spring was fun, i get to meet and mingle with NOFX, Weezer, Lagwagon, Mayday Parade, and Akihiro Namba from Hi-Standard. How come, you ask? They gave me this super cool pass. Back stage selalu jadi momen yang penting karena gue bisa ketemu dan kenal orang industri disana. Selalu bawa kartu nama di momen seperti ini. Eventhough it's always tempting to take pictures with them, keep this as a priority: make sure they know your name and who you are and what you do. It'll last longer than just pictures.

me, too drunk to remember.
Selain back stage, momen penting lainnya gak akan gue lewatin dalam kesempatan kaya gini adalah after party. Karena gue akan ketemu lagi orang-orang itu dalam keadaan yang lebih santai. And since I already left an impression, gak akan susah untuk mulai ngobrol lagi. Kali ini gue ketemu beberapa orang label lagi yang sebelumnya gue temuin di back stage. Salah satunya? Yes. Ada orang Universal Records lagi. Mereka mau denger materi Pee Wee Gaskins, gue kasih denger You And I Going South, they liked it. Mereka rekomendasi untuk temuin Universal Indonesia. Tapi waktu itu belum kepikiran mau rilis sama Major.

Sesampainya di Jakarta biasanya gue akan keluarin "koleksi" kartunama dan gue email kalau gue udah balik ke Jakarta. Basa basi sih, like "hey i'm back in Jakarta now, it was nice to meet you, much gratitude" biar nyantol nama gue heheh.

Ok balik lagi, jadi materi A Youth Not Wasted udah kelar, terus dapet email dari Nukui Bogard, dia sempet nonton Pee Wee Gaskins waktu di Jepang, katanya dia suka dan mau bikin artwork, awalnya buat merchandise, tapi mumpung lagi mau keluarin album akhirnya gue tawarin untuk kerjain artwork album, dan dia mau. Gue gak brief banyak, tapi sepertinya dia research sendiri dan kirim beberapa artwork yang langsung kami suka. Sebelumnya dia pernah ngerjain artwork MXPX, NOFX, Lagwagon, Bowling For Soup, UK SUBS, dll. Pretty cool, huh?

Rekap: kami punya 15 lagu siap rilis, artwork udah setengah jadi, rilisnya gimana? Rino sempet ngajuin sebuah nama Major Label, tapi dealnya kurang bagus. Sempet ketemuan juga sama Erix Soekamti minta diproduserin, tapi dia maunya materi baru semua dan di take ulang sama dia. We didnt have the time dan sayang lagu-lagu yang udah siap ini. Jadi kami simpan saja untuk kerjasama berikutnya. Lalu sambil cek instagram ada yang ngetag foto, namanya familiar, oh gue inget, dia Dork, termasuk Dork awal-awal jaman basecamp masih di Mendawai. Dia ngetag foto baru abis beli sepatu Zero Hate x Saint Barkley, dan gue lihat locationnya Universal Music Indonesia. Gue iseng buka profilenya, ternyata dia emang kerja di Universal Music Indonesia. Gue komen minta kontek A&R Universal, dikasih, dan kami janjian ketemu.

Ternyata yang mau ketemu langsung pak Jan Djuhana, A&R Director Universal Music Indonesia. Cool ol' champ. Singkat cerita, Universal tertarik untuk release, dan menyerahkan proses kreatif sepenuhnya ke Pee Wee Gaskins. Management juga tetep Pee Wee Gaskins yang pegang. Pretty good deal, dapet network lebih besar. 15 lagu dipilah jadi 10, supaya isinya fresh dan karakter tiap lagunya kuat. Sisanya ditabung. Black And White, No Strings Attach, You Throw The Party We Get The Girls, dan 2 titel rahasia lainnya masih disimpen. Ini udah akhir tahun 2015, dan kami ngejar rilis di awal tahun 2016, jadi gak ngejar kalau dimixing Scott, dan hasilnya juga kurang maksimal karena dia ngerjainnya di rumah. Sayang banget mesti kehilangan nama Scott untuk di album ini, but we need to decide, and we decided to give the honor to Stephan Santoso.

Tanggal 4 Maret A Youth Not Wasted resmi release di iTunes dan menempati posisi ke 2, dibawah Adele.


So yeah, that's my side of the story.

A Youth Not Wasted udah jadi slogan Pee Wee Gaskins, nempel di bass gue, dipilih jadi judul album karena mewakili semua lagu yang ada di dalamnya, tentang masa muda yang tidak disia-siakan.

I hope you enjoy this as much as I do.

Cheers!

x Dochi

https://itunes.apple.com/id/album/a-youth-not-wasted/id1084205691


A Youth Not Wasted

 This place is full of my belongings..

But I don't feel like home

The blanket is tidy, the mattress is big enough for two..

But i'm cold and left alone

The car keys are at the top of the drawer of your make up and fake eye lashes shelf, they just lay there still silently judging me as i come undone.. Getting ready for my late night bath.. I'm sitting here like a sponge letting everything soaks.. Listening to the water flows through the shower..

I wish it was the smell of petrichor instead.. I'm sure it wasn't.. It was more like a dried tears hidden somewhere beneath some ingrown hairs....

As i said to myself.. Marriage is hard, marriage is hard.. It was still my choice to make.. And submitting myself with idea of not feeling lonely anymore.. On tv nights and whatnots.. It was still the best decision i've made.. Even if it kills me

But afterall, my journey was never easy and i made it through so far.. Though bones break, and sweat sweats, and laughter slowly fades..

And then i saw him.. And he was me, only older and wise.. He was me, only thinner and less bitter..

The ghost in front of me smirks..

The ghost of me.. The future me..

He said, "this too shall pass, i won't tell you how the story goes, but worry not, things are always hard and this time is not easy, but the lesson you'll take in the end pays all the debt of your recent sorrow and you'll step forth.."

It gets bitter and cold..

But if growing up is getting old, and being older is better, then i'll get better after..

Nothing changes except everything

And i will always love you, just the same.

Drips.

“Aku punya band, aku harus ngapain ya?”

Sebuah pertanyaan yang lumayan sering ditanyakan ke gue belakangan ini. Menarik.
Tapi ya jawabannya kembali ke si penanya, mau dibawa kemana band nya?
Nah ini postingan pertama gue di sini, dalam kesempatan ini gue mau bahas sedikit tentang suatu hal yang dinamakan ego.

Sering sekali gue denger curhatan seorang fans, dia punya band, tapi di dalam band tersebut susah banget menyatukan kepala mereka, semua egonya besar sekali.
Well, ego itu gak selamanya hal yang buruk. Ego yang nyetir seseorang untuk menjadi seperti apa yang dia mau. Bisa dibilang, ego ini bahan bakar untuk terus berjalan.
Tentu saja, ego yang berbeda arahnya pasti juga berbeda. Itulah kenapa kapal cuma ada 1 nahkoda. Begitu juga idealnya sebuah band.

Atau gampangnya gini deh, pernah kepikiran gak kenapa motor setirnya cuma satu? Ya bayangin aja kalau setirnya ada dua, gak akan nyampe-nyampe tuh apalagi kalo masing-masing yg nyetir beda tujuan.

Cari 1 orang dengan ego yang paling besar dalam band, tunjuk dia menjadi nahkoda. Band itu sebuah team, dan sekali lagi, team butuh pemimpin.

Kenapa butuh pemimpin?
Sebuah band tanpa pemimpin biasanya tidak ada ambisi.



Band yang berjalan dengan system total demokrasi alias semua berdasarkan voting terbanyak untuk mengambil keputusan  biasanya akan berahir stagnan dan lambat pergerakannya.
Logikanya seperti ini. Ada 10 orang di dalam kelas, diantaranya ada 2 murid pintar, yang lainnya rata-rata. Kalau voting dan mayoritas tidak setuju dengan suara minoritas, belum tentu keputusan yang diambil adalah keputusan yang bijak, bukan?

Pemimpin harus bisa mengambil keputusan.

Pemimpin gak harus yang paling jago main alat musik. Tapi balik lagi ya, band itu kumpulan orang yang bermain musik, jadi ambisi saja tidak cukup, bakat jangan lupa diasah. Berlatih dan berlatih.

Seorang pemimpin harus professional.

Perlu di ingat bahwa bermusik adalah karir dengan tantangan yang sangat besar yang membutuhkan banyak pengetahuan, bertahun-tahun latihan, disiplin, kreatif, dan kemampuan berorganisasi. Untuk dihargai, seorang pemimpin harus punya sifat professional. Tepat waktu, organized, dan siap menghadapi masalah.

Seorang pemimpin harus punya kesabaran.

Membutuhkan banyak waktu untuk mencapai impian dalam sebuah band, kalau grasak-grusuk cepet capek dan akhirnya cepet nyerah juga. Sabar. Nikmatin perjalanan dari sebuah band. Banyak berlatih, ciptakan suasana nyaman dalam sebuah band. Latihan, latihan, dan latihan.

Seorang pemimpin harus punya rasa hormat.

Seperti halnya dalam sebuah hubungan, semua ekspektasi harus dibahas. Ingat bahwa setiap musisi punya bakat, ide, personal goal, dan gairah yang berbeda. Biarkan itu berkembang. Sikap menghargai ini akan membuat band penuh dengan energi positif dan ide yang segar. Berikan motivasi.

Seorang pemimpin harus bisa berpikiran terbuka.

Gaya berfikir orang pasti berbeda. Adain sesi brainstorm. Bertukar pikiran, lihat dari perspektif yang berbeda. Biarkan semua berkontribusi. Dan pada akhirnya, ambil keputusan.

Seorang pemimpin harus bisa melihat gambar besar.

Tentukan arahnya mau kemana, lihat gambar keseluruhannya tapi jangan luput hal kecil yang mesti diperhatikan. Pay attention to small details. Pada akhirnya seorang pemimpin harus bisa mewujudkan, menjelaskan konsep, dan tentukan apa yang harus dilakukan kedepannya.
Kadang kewajiban pemimpin terlalu banyak, yang berikutnya harus dimiliki seorang pemimpin adalah kemampuan untuk mendelegasi.

Seorang pemimpin juga harus sadar diri. 

Bahwa sebuah band bukan mesin, dan pemimpin bukan seorang dictator.  Walaupun kadang tidak setuju dengan pendapat yang lain, at least dukung pendapatnya dan ingat, perlakukan orang sebagaimana lo mau diperlakukan.

Yang paling penting,

Seorang pemimpin harus jadi motivator.

Semua proses yang terjadi dalam perjalanan sebuah band, nikmatilah. Perjalanannya gak selamanya menyenangkan. Jadi mesti sabar-sabar. Hehe.

Nah, jadi kalo punya band, sekarang tunjuk siapa yang jadi pemimpinnya. Ingat, nahkoda kapal itu 1, dan masakan juga rasanya akan aneh dan tidak enak kalau juru masaknya banyak.

Semua orang bisa menjadi pemimpi, tapi gak semuanya bisa jadi pemimpin.

 
baca postingan gue di www.ngapainaja.com

BAND 101: Apakah band butuh pemimpin?