Catatan siang

Waktu pertama kali dapet mandat Fluktuasi Glukosa mau diremake PWG rasanya mixed feelings. Lagu itu ibarat anak, bisa jadi posesif kalau mau di pegang orang lain. Tapi udah lama kebayang aransemen full bandnya, dan yang paling pas ya PWG yang remake. Lagu ini sangat personal buat gue, diambil dari EP Analogi Logika yang kurang lebih bercerita tentang hubungan gue sama seseorang yang ngga perlu dijelaskan siapa. Walaupun sekarang udah ngga ada perasaan apa-apa karena cerita dan kenangannya berakhir di Analogi Logika.


Analogi Logika berisi 5 lagu yang kalau didengar secara repeat siklusnya akan nyambung terus. Fluktuasi Glukosa adalah lagu ke 4, tepat sebelum Yang Terakhir, dan repeat lagi ke lagu pertama Dalam Kelam. Sedih ngga sih?



Di post ini gue akan lebih bercerita tentang Fluktuasi Glukosa, terutama tentang videoklipnya yang baru.

Banyak sekali yang komen kalau lebih suka versi gue yang dibikin di Jepang. Well, kalau lebih suka video itu tetep bisa diliat ulang kok. Tapi lagunya udah di remake jadi bernuansa beda, masa videoklipnya mau disamain ceritanya?



Udah lama banget pengen kolaborasi sama Harris Syn, pertama kali kerja bareng dia adalah bikin lookbook Sunday Sunday Co. Akhirnya kita duduk bareng lagi ngomongin videoklip. Gue suka banget sama presentasinya. Ide cerita, kosep, dll suka banget. Tadinya mau dibikin di Bromo. Tapi karena waktu dan dana akhirnya jadinya di Bandung. Modelnya adalah Agnes (videoklip Berbagi Cerita) dan Martin Praja. Sebenernya banyak scene penting yang ilang karena pas lagi take hujan deras, tapi gue puas sama hasil akhirnya.

Ide awalnya gini: sepasang kekasih berencana mendaki gunung bersama, tapi ternyata cewenya divonis sakit dan lalu meninggal, setelah meninggal cowonya menyelesaikan rencana mereka,  kehadiran cewenya seperti  selalu ada di dekat cowonya, dan diakhir klip si cowo membuang abu cewenya, jadi sebenernya perginya dari awal sendiri.



Beberapa scene hilang malah membebaskan penonton untuk berimajinasi dan menginterpretasikan klip ini menurut kepercayaannya masing-masing. Gue mau kasih liat beberapa poin yang mungkin terlewat oleh pemirsa:

Adegan dibuka dengan si cowo mendaki sendirian, nah dari situ sebenernya udah dibocorin tuh tapi masih belum pada sadar pasti pemirsa.


Di menit 1:04 cewenya ada di sebelahnya, di menit 3:26 cowonya duduk sendiri megang sesuatu. Orang yang dibelakangnya sama, cuma posisinya berubah, ya kan perjalanannya jauh mau ke gunung.

Liat deh orang yang dilingkarin, ya begitu kan kira-kira ekspresi orang yang liat ada orang lari-larian sendiri ketawa-ketawa?

Seperti yang sebelumnya udah diterangkan, perjalanan ini sebenernya cuma si cowo doang, tapi...

Ini saat si cewe ngasih tau kalau ternyata dia mengidap penyakit kronis dan umurnya udah ngga panjang, tapi dia pengen banget naik gunung bareng si cowo, dan di sela kesedihannya dia bilang "kalau aku udah ngga ada pasti kamu sama cewe lain kan bang.."
lalu kata si abang:
"Ya ngga lah sayang jangan ngomong gitu dong aku kan masih ada di sini buat kamu, kita nanti naik gunung bareng ya" walaupun sebenernya si cowo tau kalo ngga bisa tapi dia cuma mau menenangkan si cewe, karena sebenernya..



lalu apa maksud adegan ini?  Di sini ceritanya si cowo udah mulai sadar dan mau move on dari cewenya, tapi hantu si cewe ga terima, jadi ditabrak deh biar dia sadar akan kehadirannya.

bye.


Kudos to Thefreakyteppy.








Fluktuasi Glukosa

4 bulan berlalu sejak Nina lahir di dunia, punya anak perempuan udah jadi keinginan gue dari lama, dan dengan jalan hidup yang gue siapkan pula. Maksudnya gimana?

Gini.

Gue lahir di Jogja tapi pindah ke Jakarta dari gue seumur jagung. Lupa tepatnya umur berapa yang pasti dari TK gue udah di Jakarta. Haha. Ayah dan Ibu semangat sekali bekerja, menyiapkan bekal untuk gue kelak. Tentu saja ada yang perlu dibayar; waktu. Gue gak mengeluh sih, tapi ya denger cerita sih dulu sering ngambek juga ditinggal kerja pas lagi kangen-kangennya. Pernah suatu hari gue ngumpetin kunci mobil supaya mereka gak bisa pergi, dan gue pura-pura tidur. Tapi ternyata mereka tetep pergi, karena punya kunci cadangan. Hahah. Cara mereka “membayar” adalah dengan bawa oleh-oleh, sehingga jadi kebiasaan. Setiap mereka pulang gue semangat menyambut sambil nodong oleh-oleh.

Hiburan gue TV, dan video VHS. Di rumah sama pembantu, dan pembantu suka ngunci gue di rumah dan membiarkan gue nonton tv, sementara dia main sama pembantu tetangga. Tapi gue tetep disiapin makanan kok. Rutinitas itu yang membuat gue punya “temen”. Nanny bule yang nemenin gue di rumah sampe gue SD. Namanya Jessica. Dia ngomongnya pake bahasa Inggris. Dia yang bikin gue bisa bahasa Inggris tanpa les, bahkan sebelum gue belajar bahasa Inggris di sekolah, and this is the best part: she ain’t real.

Gedean dikit, gue main sama temen-temen komplek. Gue sama kk gue beda 5 taun, dan gue juga bergaul sama anak seangkatan kk gue di komplek. Tentunya uang jajan mereka pasti lebih banyak dari gue. Waktu itu ada tukang es krim lewat dan gue mau jajan tapi ga punya uang, dan waktu itu ada temennya kk gue lagi main ke rumah, gue tau dia pasti bawa uang jajan karena baru saja pulang sekolah dan masih pake seragam. Ya, dia juga anak yang orang tuanya bekerja jadi anak-anak suka main ke rumah biar pada ngumpul dan ngga kesepian, dan waktu itu Ayah baru beli Sega buat kami, rumah kami jadi basecamp anak-anak komplek. Anyway, yes gue mau es krim tapi ngga punya uang, dan kk gue pelit banget udah pasti gue ga akan dikasih kalau minta. Jadi gue ke halaman belakang dan ambil salah satu batu warna putih yang ada di belakang. Lalu gue mulai pitching ke temen kk gue.

Gue: “Mas, Ayah kemaren dapet oleh-oleh dari temennya, mau lihat ngga?”
Mas Dion: “mana liat dong”
Gue: “tapi ini rahasia, kalau pada tau nanti pada minta”
Mas Dion: “mau dong liat”
Gue: “ini ada batu dari bulan, warnanya putih, mau pegang ngga?”
Mas Dion: “ah masa, mau dooong pegang”
Gue: “boleh tapi beliin es krim ya”

That’s my first business pitch.

Growing up, I never realized what my passion was, one thing I did know was that I always have a heart for music. Everywhere we go we always listen to the music our Dad play on the car audio. He bought me a set of mini drums and that was my first introduction to musical intruments.

Family means everything to me. It shaped me to the person I am now. Tapi gue gak mau lakuin apa yang orang tua gue lakuin, gue harus punya solusi agar waktu gue bisa lebih banyak di rumah tapi tetap bisa kerja. Keputusan gue masuk IPS di SMA yang membuka jalan lagi buat gue: kewirausahaan.

Long story short gue mengorbankan kesempatan bekerja normal dengan gaji konstan dengan segala apa yang gue punya. Yang akhirnya menjadikan gue seorang “musisi pedagang”.

Beruntung sekali saat semua sudah pada jalannya, Anila lahir.

Kalau lo baca di post-post sebelumnya, lo akan baca usaha gue untuk selalu hadir buat Nina. Semoga tidak ada yang terlewat.

Semua belajar.

Ganti popok, mandiin, gendong, gimana kalau dia nangis, kenapa dia nangis, kenapa bangun, kenapa kurang tidur, kenapa nangisnya teriak-teriak, apa itu kolik, gimana kalau susunya Tasya ngga keluar, semua dilewatin dan harus tetep sabar, karena punya anak bayi itu ngga gampang (belum ngerasain punya anak kecil, atau anak gede).

Mungkin akan nulis lebih detail lagi tentang pengalaman sama Nina, di post selanjutnya.

Hanya untuk bahan pikiran kali ini, semua orang tua sayang sama anaknya dengan caranya sendiri, we should love them the same: with all our heart.

Sehat terus ya, Nina.



Pasca Anila

Tasya si penakut yang pemberani.


Gue ngga tau kalo orang lain gimana tapi selama kehamilan, Tasya berubah jadi orang yang amat sangat cemburuan, like parah, I don't know if its hormonal but we fought a lot, dan ya, tried my best not to argue. Contoh beberapa hal yang membuat berantem yang rasanya ampe mau ditalak:

- komen ke instagram cewe cantik walaupun itu temen gue (karena ini kami ngga saling follow di instagram, baru setelah Anila lahiran saling follow lagi)
- bahas masalah yang sudah lama lewat yang melibatkan mantan
- minjemin barang ke mantan yang kebetulan lagi butuh barang tsb

Pernah kami berantem sampe dia berkemas koper dan masukin passport. mo kmana bu? Hihi 

Waduh, rasanya kalo berantem tuh kaya kaki di kepala dan kepala di kaki. Sampe at some point dia gak percayain gue untuk ada di ruangan saat dia menjalani prosesi persalinan. Karena itu, dia minta adanya Doula. Apa itu Doula? Gue juga baru tau, ternyata Doula itu dari bahasa Yunani artinya "hamba wanita," kalau menurut bahasa Inggris:

a woman who is trained to assist another woman during childbirth and who may provide support to the family after the baby is born.

Dan kebetulan Nujuhbulan juga menyediakan fasilitas ini sepaket sama kelas Child Birth Education. Di sini kami kenalan sama Mba Sinta & Mba Imu. Gue ngga terlalu peduliin dia bilang nanti gue ngga boleh ada di samping dia waktu lahiran, yang penting dia tenang dan bisa lewati semua prosesnya. Setiap ada cekcok, ngalah terus pokoknya. Ego gue bener-bener gue bungkus koran dan dilempar keluar jendela mobil di Bantar Gebang. Apa itu pride? Udah di un-install dari system. Yang penting Tasya sehat, mentally and physically.

Doula juga membantu kami bikin birthplan, yang isinya termasuk mau lahiran di mana, dokternya siapa, normal atau cesar, mau menggunakan painkiller apa ngga, nanti di ruang observasi siapa aja yang boleh di dalam, di ruang bersalin siapa aja, request apa saja nanti, siapa yang potong tali pusar, dll. Dan nama gue selalu ada di situ sih hehe. Tentunya bukan sebagai dokter pilihannya.

1 Mei 2017
Di HP gue udah siap aplikasi penghitung jarak kontraksi, dan ketika jaraknya udah per 10 menit dan konstan, akhirnya kami langsung berangkat ke KMC (Kemang Medical Care) bawa koper yang udah disiapin di dalam mobil. Perjalanan dari Bintaro ke Kemang: 1 jam.
Sampe sana jam 10 pagi Tasya cek CTG (rekam jantung) dan ternyata masih kontraksi palsu, belum ada pembukaan. Disuruh balik 3 jam lagi. Karena mager balik lagi ke Bintaro akhirnya kami stay di rumah tante gue di Jl. Cipaku, 15 menit lah dari KMC. Di situ deket banyak tempat makan kesukaan Tasya. Jadi lumayan lah staycation di sana.
Jam 14.00 periksa CTG lagi daaan pembukaan 2! Dikasih pilihan mau stay di RS atau balik, kami pilih balik ke Cipaku. Udah semakin dekat nih dan di pikiran Tasya udah bukan takut lagi tapi pengen cepet-cepet anaknya keluar dan ketemu. Yoga lagi biar lancar. Jam 17.00 balik ke KMC dan naik ke pembukaan 4. Tasya pindah ke ruang observasi dan kami panggil Mba Sinta Doula ke lokasi.
Jam 19.00 kontraksinya udah mulai sakit, Ibunya Tasya dateng nemenin. Gue juga di situ terus. Hari itu gue dan Tasya ngga tidur, ngelewatin bukaan demi bukaan. 

2 Mei 2017
One sleepless night. Tasya sempet tidur ayam sejam dua jam. Gue ngga bisa tidur sama sekali. Hari ini Anila 40 minggu 5 hari di dalam perut. Betah banget dia ya. Dokter memperkirakan jam 4 sore lahir. Tapi jam 4 itu masih bukaan 7.
Di sini Ibunya Tasya kasih semua emotional support yang bisa diberikan, rasanya kaya liat Tasya minta ijin ke Ibunya untuk melahirkan. Minta maaf, minta restu.

 
 

Cri. Bukaan 8 tapi kontraksinya mulai renggang lagi, berkali-kali dia bilang kalau dia udah ngga kuat lagi, antara minta cesar atau ngga kuat mau die.. tapi kita terus semangatin dia, Tasya kuat! Dokter usul untuk pecahin ketuban. Tasya udah ngga nanya sakit apa ngga, akhirnya ketuban dipecahin, ngga lama naik bukaan 9.

 

Jam 18.00 bukaannya ngga nambah, dokter suggest untuk akselerasi, kalau di bukaan awal namanya induksi, and guess what? Diinfus. Tasya si penakut yang takut banget diinfus, yang memilih lahiran normal karena takut diinfus kalau cesar, mengijinkan badannya diinfus demi bayinya.

 

Ini gue kipasin karena setiap kontraksi dia kepanasan. Dan setiap abis kontraksi langsung kedinginan.

 

Waktu kepala Anila mulai keliatan gue pindah posisi, dari samping Tasya jadi pas di depan selangkangannya. Posisi gue digantikan sama Ibunya.

 

18.25 Anila lahir dan langsung gue azanin sambil nangis. Bahagia sekali rasanya lihat dia. 

 

Setelah begadang akhirnya ketemu juga sama Anila. Ibu dan Ayah gue baru aja dateng dari Semarang abis ada kawinan sodara, akhirnya bisa dateng juga di hari H. Gue potong tali pusatnya Anila. 



Beautiful baby. Anila Kamaishtara Décca -- artinya angin sejuk pembawa cinta setinggi bintang. Lahir dengan berat 2,89kg dan panjang 48cm, hari Selasa 2 Mei 2017.

 

Support system. Mba Sinta & Mba Imu (Nujuhbulan), Dr. Achmad Meidiana, Ibu, Ibu, Syifa.




Jadi dia mirip siapa?


Langsung masuk berita 😂

End of part 3 - fin.

Looking back: Sebelum Anila (Part 3)


Seorang teman baru aja cerita kalau mereka mau cerai, gue ngga tau harus merasa apa.

Kita ngga tau apa yang kita punya sampai itu hilang.. gimana kalau kita tau bahwa apa yang kita punya akan diambil dari kita, dan bagaimana kalau kita tau tepatnya kapan itu akan hilang? apakah itu akan membuat kita merasa... kalau apa yang kita punya sekarang akan hilang? Akankah kita lebih menikmati dan menghargainya di sisa waktu yang kita punya?

You know, we're all happy and fee as long as we can f#ck as much as we want. Gue pikir kalau kita bisa terima kenyataan bahwa hidup memang seharusnya sulit, dan itu yang kita harapkan bahwa hidup memang sulit, mungkin kita ngga akan terlalu kesel menyikapinya dan kita akan yaudah seneng aja ketika ada hal menyenangkan terjadi.

Apa yang paling menyebalkan ketika orang mutusin kita adalah waktu lo inget terakhir kali lo mutusin orang lo segitu ngga mikirinnya perasaan orang yang lo putusin, dan sadar orang yang mutusin lo sekarang segitu ngga mikirinnya perasaan lo. Hehe, lo kira kalian sama sakitnya sementara dia cuma "hey, gue seneng lo udah gak ada".

Gue rasa gue bener-bener jatuh cinta kalau gue tau semuanya tentang orang itu - ke bagian mana dia akan membelah rambutnya, tau cerita apa yang akan dia ceritakan dalam situasi tertentu, tau apa baju dan sepatu yang dia akan pakai hari itu, itu saat dimana gue tau kalau gue jatuh cinta. Seperti merasakan dia lagi ngeliatin gue saat gue ngga liat.

Tapi di pernikahan, semuanya lebih rumit. Kadang rasa sayang udah ngga jadi ukuran dan lo hanya menjalani karena tanggung jawab, lo ngga bisa berharap pasangan lo terus merasakan hal yang sama kalau apa yang kalian lakukan itu itu aja. Tapi gpp. Pernikahan butuh kerja keras, tapi sebenernya ngga juga, ngga masuk akal ya? Ya kalau lo selalu mengharapkan cinta itu ngga mesti ngapa-ngapain, mungkin lo salah spesies. Manusia memang diciptakan untuk selalu beradaptasi, selalu belajar. Cinta memang ngga selamanya kerja keras, just make it work. Gue punya beberapa teman yang lebih bahagia di pernikahan yang ke dua, tapi... Untuk berapa lama? Akan selalu ada masalah.

Berhenti berharap orang yang tepat untuk lo, mulai jadi orang yang tepat untuk mereka.

And if you can't be with the one you love, love the one you are with.

Please stay together. I love you guys.

 

Blab.

Sebelum ada Anila, Oggy hadir di hidup kami dan mengajarkan kami tanggung jawab dan compassion, sebelum akhirnya dikasih anak di tahun ke dua pernikahan kami, terlebih untuk Tasya yang pasca menikah merasa lebih all out, serasa lepas dari semua aturan rumahnya, punya anak rasanya bukan pilihan 😂. Oggy tidak sempurna, walaupun kupingnya besar tapi dia tidak bisa mendengar. Tidak bereaksi sama suara.

 

Kalau ngga ada Oggy, mungkin hubungan kami udah chaos. He is here with us for a reason, a good cause dan kami rawat dia dengan sebaik-baiknya.

Awal kehamilan Tasya mikir kalo dia udah pasti cesar, karena ketakutannya ngga akan bisa melewati proses persalinan. 

"Gimana kalo aku pingsan di tengah jalan? Ada ngga sih orang yang panik waktu bersalin terus ngga kuat?" Pertanyaan-pertanyaan seperti itu ngga jarang keluar dari dia. Untungnya kami ketemu Dokter Achmad yang pro-normal. Tau ngga kalo di luar negeri cesar itu bukan pilihan? Kalau bisa normal, dan tidak ada keadaan darurat, cesar itu tidak boleh. They encourage mothers to do normal labor. Did I tell you about how Tasya is very afraid of needle? Akhirnya bukan "cesar awalnya doang ngga sakit tapi setelahnya sakit" yang membuatnya memutuskan untuk mempersiapkan diri untuk lahiran normal, tapi karena tau kalo cesar dia diinfus. Yes, ada yang buat dia lebih takut dibandingkan disuntik -- diinfus.

Gue menemaninya mencari info sebanyak-banyaknya. Dari ILA, epidural, episiotomi -- yang artinya kalian Google sendiri aja -- sampe child birth education, pengetahuan laktasi, hypnobirth, dan segala ina inu tentang lahiran dan bayi. Walaupun gue tau dia takut, tapi gue tau juga kalau dia mempersiapkan diri, dan itu yang bikin gue selalu ada di belakang dia, untuk mendorong dan jalanin ini bareng.

Sesekali kami liburan supaya Tasya ngga stress, kemana aja Anila waktu di dalam perut?

 

Nonton MMA di JCC Senayan. Tapi ngga sampe abis, baru sampe fight ke 3 Tasya ngga betah dan mau pulang. Ini saat-saat Tasya masih menolak jadi Ibu. It was the worst. But this too shall pass.

 

Main ice skating di Bintaro Xchange. She's pretty good for a newbie sedangkan kaki gue terkilir di sini karena salah jatuh. Haha.


Berenang di Tanjung Bira, Sulawesi Selatan. Setelah Pee Wee Gaskins manggung di Rock In Celebes Makassar, kami naik mobil 4 jam ke Tanjung Bira.



Makan steak di Bandung. Om Dendy megang franchise Holyribs dan kami nyobain ke sana.

 


 

Ngadem di Kyoto. Karena Jakarta panas kami cari tempat terdekat yang ada winter, so we flew to Japan.


Makan Takoyaki di Osaka. The best.



Makan tempura di Tokyo sama Bakky & istri. Pertama ketemu Bakky di Jakarta, waktu itu dia masih kerja di Jakarta dan ternyata temennya anak-anak Totalfat, dan waktu Totalfat main di Jakarta dia ikut, we became friends.



Ketemu Hachiko di Shibuya.

 

Jalan-jalan hamil di Omotesando. Dia seneng banget akhirnya perut keliatan gede di foto. Hari ini usia kehamilan 23 minggu.

 

Ngopi sama Eliott Blessthefall & pacarnya di Dover Street Market. Ini ke dua kalinya ketemu Eliott di Jepang, pertama taun 2013 (atau 2014?) waktu Blessthefall main bareng Coldrain di Tokyo. 

 

Ujan-ujanan di Harajuku.


Ghibli Museum di Mitaka.



Laundry di Minato.

 

Naik sepeda di Sasazuka.

 

Nonton Tycho di Shinagawa.

 

Grocery shopping di Costco.

 

Pergi sama Ibu ke Central Park.

Oh baby, the places you'll go..


End of part 2.


Looking Back: Sebelum Anila (part 2)