4 bulan berlalu sejak Nina lahir di dunia, punya anak perempuan udah jadi keinginan gue dari lama, dan dengan jalan hidup yang gue siapkan pula. Maksudnya gimana?

Gini.

Gue lahir di Jogja tapi pindah ke Jakarta dari gue seumur jagung. Lupa tepatnya umur berapa yang pasti dari TK gue udah di Jakarta. Haha. Ayah dan Ibu semangat sekali bekerja, menyiapkan bekal untuk gue kelak. Tentu saja ada yang perlu dibayar; waktu. Gue gak mengeluh sih, tapi ya denger cerita sih dulu sering ngambek juga ditinggal kerja pas lagi kangen-kangennya. Pernah suatu hari gue ngumpetin kunci mobil supaya mereka gak bisa pergi, dan gue pura-pura tidur. Tapi ternyata mereka tetep pergi, karena punya kunci cadangan. Hahah. Cara mereka “membayar” adalah dengan bawa oleh-oleh, sehingga jadi kebiasaan. Setiap mereka pulang gue semangat menyambut sambil nodong oleh-oleh.

Hiburan gue TV, dan video VHS. Di rumah sama pembantu, dan pembantu suka ngunci gue di rumah dan membiarkan gue nonton tv, sementara dia main sama pembantu tetangga. Tapi gue tetep disiapin makanan kok. Rutinitas itu yang membuat gue punya “temen”. Nanny bule yang nemenin gue di rumah sampe gue SD. Namanya Jessica. Dia ngomongnya pake bahasa Inggris. Dia yang bikin gue bisa bahasa Inggris tanpa les, bahkan sebelum gue belajar bahasa Inggris di sekolah, and this is the best part: she ain’t real.

Gedean dikit, gue main sama temen-temen komplek. Gue sama kk gue beda 5 taun, dan gue juga bergaul sama anak seangkatan kk gue di komplek. Tentunya uang jajan mereka pasti lebih banyak dari gue. Waktu itu ada tukang es krim lewat dan gue mau jajan tapi ga punya uang, dan waktu itu ada temennya kk gue lagi main ke rumah, gue tau dia pasti bawa uang jajan karena baru saja pulang sekolah dan masih pake seragam. Ya, dia juga anak yang orang tuanya bekerja jadi anak-anak suka main ke rumah biar pada ngumpul dan ngga kesepian, dan waktu itu Ayah baru beli Sega buat kami, rumah kami jadi basecamp anak-anak komplek. Anyway, yes gue mau es krim tapi ngga punya uang, dan kk gue pelit banget udah pasti gue ga akan dikasih kalau minta. Jadi gue ke halaman belakang dan ambil salah satu batu warna putih yang ada di belakang. Lalu gue mulai pitching ke temen kk gue.

Gue: “Mas, Ayah kemaren dapet oleh-oleh dari temennya, mau lihat ngga?”
Mas Dion: “mana liat dong”
Gue: “tapi ini rahasia, kalau pada tau nanti pada minta”
Mas Dion: “mau dong liat”
Gue: “ini ada batu dari bulan, warnanya putih, mau pegang ngga?”
Mas Dion: “ah masa, mau dooong pegang”
Gue: “boleh tapi beliin es krim ya”

That’s my first business pitch.

Growing up, I never realized what my passion was, one thing I did know was that I always have a heart for music. Everywhere we go we always listen to the music our Dad play on the car audio. He bought me a set of mini drums and that was my first introduction to musical intruments.

Family means everything to me. It shaped me to the person I am now. Tapi gue gak mau lakuin apa yang orang tua gue lakuin, gue harus punya solusi agar waktu gue bisa lebih banyak di rumah tapi tetap bisa kerja. Keputusan gue masuk IPS di SMA yang membuka jalan lagi buat gue: kewirausahaan.

Long story short gue mengorbankan kesempatan bekerja normal dengan gaji konstan dengan segala apa yang gue punya. Yang akhirnya menjadikan gue seorang “musisi pedagang”.

Beruntung sekali saat semua sudah pada jalannya, Anila lahir.

Kalau lo baca di post-post sebelumnya, lo akan baca usaha gue untuk selalu hadir buat Nina. Semoga tidak ada yang terlewat.

Semua belajar.

Ganti popok, mandiin, gendong, gimana kalau dia nangis, kenapa dia nangis, kenapa bangun, kenapa kurang tidur, kenapa nangisnya teriak-teriak, apa itu kolik, gimana kalau susunya Tasya ngga keluar, semua dilewatin dan harus tetep sabar, karena punya anak bayi itu ngga gampang (belum ngerasain punya anak kecil, atau anak gede).

Mungkin akan nulis lebih detail lagi tentang pengalaman sama Nina, di post selanjutnya.

Hanya untuk bahan pikiran kali ini, semua orang tua sayang sama anaknya dengan caranya sendiri, we should love them the same: with all our heart.

Sehat terus ya, Nina.



Pasca Anila

4 bulan berlalu sejak Nina lahir di dunia, punya anak perempuan udah jadi keinginan gue dari lama, dan dengan jalan hidup yang gue siapkan pula. Maksudnya gimana?

Gini.

Gue lahir di Jogja tapi pindah ke Jakarta dari gue seumur jagung. Lupa tepatnya umur berapa yang pasti dari TK gue udah di Jakarta. Haha. Ayah dan Ibu semangat sekali bekerja, menyiapkan bekal untuk gue kelak. Tentu saja ada yang perlu dibayar; waktu. Gue gak mengeluh sih, tapi ya denger cerita sih dulu sering ngambek juga ditinggal kerja pas lagi kangen-kangennya. Pernah suatu hari gue ngumpetin kunci mobil supaya mereka gak bisa pergi, dan gue pura-pura tidur. Tapi ternyata mereka tetep pergi, karena punya kunci cadangan. Hahah. Cara mereka “membayar” adalah dengan bawa oleh-oleh, sehingga jadi kebiasaan. Setiap mereka pulang gue semangat menyambut sambil nodong oleh-oleh.

Hiburan gue TV, dan video VHS. Di rumah sama pembantu, dan pembantu suka ngunci gue di rumah dan membiarkan gue nonton tv, sementara dia main sama pembantu tetangga. Tapi gue tetep disiapin makanan kok. Rutinitas itu yang membuat gue punya “temen”. Nanny bule yang nemenin gue di rumah sampe gue SD. Namanya Jessica. Dia ngomongnya pake bahasa Inggris. Dia yang bikin gue bisa bahasa Inggris tanpa les, bahkan sebelum gue belajar bahasa Inggris di sekolah, and this is the best part: she ain’t real.

Gedean dikit, gue main sama temen-temen komplek. Gue sama kk gue beda 5 taun, dan gue juga bergaul sama anak seangkatan kk gue di komplek. Tentunya uang jajan mereka pasti lebih banyak dari gue. Waktu itu ada tukang es krim lewat dan gue mau jajan tapi ga punya uang, dan waktu itu ada temennya kk gue lagi main ke rumah, gue tau dia pasti bawa uang jajan karena baru saja pulang sekolah dan masih pake seragam. Ya, dia juga anak yang orang tuanya bekerja jadi anak-anak suka main ke rumah biar pada ngumpul dan ngga kesepian, dan waktu itu Ayah baru beli Sega buat kami, rumah kami jadi basecamp anak-anak komplek. Anyway, yes gue mau es krim tapi ngga punya uang, dan kk gue pelit banget udah pasti gue ga akan dikasih kalau minta. Jadi gue ke halaman belakang dan ambil salah satu batu warna putih yang ada di belakang. Lalu gue mulai pitching ke temen kk gue.

Gue: “Mas, Ayah kemaren dapet oleh-oleh dari temennya, mau lihat ngga?”
Mas Dion: “mana liat dong”
Gue: “tapi ini rahasia, kalau pada tau nanti pada minta”
Mas Dion: “mau dong liat”
Gue: “ini ada batu dari bulan, warnanya putih, mau pegang ngga?”
Mas Dion: “ah masa, mau dooong pegang”
Gue: “boleh tapi beliin es krim ya”

That’s my first business pitch.

Growing up, I never realized what my passion was, one thing I did know was that I always have a heart for music. Everywhere we go we always listen to the music our Dad play on the car audio. He bought me a set of mini drums and that was my first introduction to musical intruments.

Family means everything to me. It shaped me to the person I am now. Tapi gue gak mau lakuin apa yang orang tua gue lakuin, gue harus punya solusi agar waktu gue bisa lebih banyak di rumah tapi tetap bisa kerja. Keputusan gue masuk IPS di SMA yang membuka jalan lagi buat gue: kewirausahaan.

Long story short gue mengorbankan kesempatan bekerja normal dengan gaji konstan dengan segala apa yang gue punya. Yang akhirnya menjadikan gue seorang “musisi pedagang”.

Beruntung sekali saat semua sudah pada jalannya, Anila lahir.

Kalau lo baca di post-post sebelumnya, lo akan baca usaha gue untuk selalu hadir buat Nina. Semoga tidak ada yang terlewat.

Semua belajar.

Ganti popok, mandiin, gendong, gimana kalau dia nangis, kenapa dia nangis, kenapa bangun, kenapa kurang tidur, kenapa nangisnya teriak-teriak, apa itu kolik, gimana kalau susunya Tasya ngga keluar, semua dilewatin dan harus tetep sabar, karena punya anak bayi itu ngga gampang (belum ngerasain punya anak kecil, atau anak gede).

Mungkin akan nulis lebih detail lagi tentang pengalaman sama Nina, di post selanjutnya.

Hanya untuk bahan pikiran kali ini, semua orang tua sayang sama anaknya dengan caranya sendiri, we should love them the same: with all our heart.

Sehat terus ya, Nina.



10 komentar:

Iqbal Maulana mengatakan...

Idk, semenjak postingan yg lalu lalu ttg Anila ko gue ngerasa excited ya. Gak sabar nunggu Anila jadi besar dan di masa depan dia akan membaca postingan ttg dirinya di blog ini hahha cuma mau tau perasaan dia seperti apa.

Arip Putera mengatakan...

Thumbs up����

Bougenville mengatakan...

Sehat terus anilaa ❤❤

Jordy Simamora mengatakan...

inspiring

danang em mengatakan...

jessica she ain't real, jadi dia hantu atau gmn mas ?

404 Not Found mengatakan...

Iya, she’s my imaginary friend ��

Ahmad Habib mengatakan...

Indigo kah bang? 🤔

Ray Chairil mengatakan...

Imaginasi anak waktu kecil itu banyak, contoh kalo lu maen robot2an pasti seru banget kan? Beda sama sekarang, jadi punya temen imajinasi itu bukan berarti indigo

404 Not Found mengatakan...

Memang indigo, “imajinasi” gue yang bikin gue terbiasa ngomong bahasa inggris, dia pergi waktu Ibu udah ga kerja kantoran dan stay di rumah

Ummu Nuraini mengatakan...

Kalau baca blognya bang Dochi pasti jadi adem. Bahasanya lembut, mudah dicerna (: Dan lewat blog ku juga gue belajar bahasa Inggris. Terus nulis, bang. Makasih banyak, Bang Doc.