Gue ingat betul saat pertama kali gue menunjukkan minat di musik. Gue pukul-pukul meja ngikutin beat drum dari lagu yang gue denger. Lalu bokap belikan gue drumset kecil. Tak terasa, sekarang gue jadi bassist. Sebuah perjalanan panjang yang menyangkut aktualisasi diri dan adaptasi.

Gue ingat betul saat pertama kali gue berbisnis. Waktu itu umur 6. Gue yang masih kecil dan tidak punya uang jajan itu sedang bergaul dengan kawanan kakak gue yang 5 tahun lebih tua, saat itu penjual es krim lewat depan rumah dan gue pengen, tapi sekali lagi, tidak punya uang jajan. Beda dengan kawanan kakak gue yang sudah dikasih uang jajan. Akhirnya gue ambil batu kerikil warna putih di pekarangan rumah dan gue cuci hingga bersih, dan mulai pitching: "kemaren ayahku dapet hadiah dari temennya, ini batu dari bulan, keren ya" lalu gue tawarkan ke kawan kakak gue, gue berhasil tukar batu itu dengan es krim yang gue mau. Tak terasa, sekarang gue bikin brand dengan logo es krim.

Begitu juga dalam band. Gue ingat betul pertama ngajak Sansan take vokal lagu yang sudah gue rekam sebelumnya, judulnya Remember The Titans, dari judul film yang dibintangi Denzel Washington. Tentang tim football yang menang despite racial slurs pada eranya. Melewati masa dimana satu mobil disetir satu orang menuju satu tujuan, sampai akhirnya setiap penumpang belajar menyetir di mobil masing-masing, not sure about the destination, but we just like to drive. Maybe it just didn't matter where we headed, we enjoyed the journey anyway.

Kami adalah regenerasi skena pada masanya. Saat kancah pensi ramai dengan Modern Darling-nya The Upstairs, Goodnight Electric, dan emo revivals, kami membuat lingkaran baru yang terbuka untuk siapa saja. Pee Wee Gaskins, Thirteen, Killing Me Inside, The Old Curse Of Death. Gue merindukan masa dimana setiap weekend kami berkumpul di bilangan Kemang dan saling bertanya, "hari ini siapa yang main, dimana?" Menggerakkan sebuah komunitas dengan basis "Top 8 Myspace" di laman kami masing-masing. Menggunakan social media sebelum "Youtube lebih dari TV", menempelkan poster acara, menyebar flyers, dan sesekali bila beruntung, dapat dukungan dari radio. Tidak pernah terpikir untuk intimidasi, jumawa, dan mencoba merangkul semua yang sejalan. Karena regenerasi bukan berarti mematikan atau mendiskredit generasi sebelum, tapi melestarikan apa yang sudah ada supaya umurnya bisa panjang.

Tentu saja, tidak semua berjalan lancar, tidak semua bisa menerima perubahan.

Gue ingat isu pertama yang mencoba menjegal Pee Wee Gaskins. Saat itu kami mendapat tawaran untuk main di acara komunitas di De Javu, sebuah klub kecil di bilangan Thamrin, walaupun belum di-iya-kan panitia memasukkan Pee Wee Gaskins dalam poster acara. Dan manajer kami waktu itu mendapat tawaran untuk main di pensi besar sebuah sekolah di Jakarta pada tanggal yang sama. Walaupun kami sudah konfirmasi bahwa Pee Wee tidak bisa ikutan gigs De Javu itu, nama kami sampai hari H belum dicabut dari line up. Tentu saja, opini mulai tergiring. "Wah udah lupa sama komunitas, sekarang main di pensi", "wah udah mainstream sekarang, lupa sama gigs" dan lain lain.

Don't be afraid of change, you may lose something good, but you may gain something better.

9 tahun, 3 full album, 4 EP, dan 1 live DVD berlalu.

Sudah saatnya regenerasi.

Scene butuh pergerakan masif supaya umur bisa panjang.


Siap untuk perubahan?

INHERIT POP PUNK!

Tentang Perubahan.

 Gue ingat betul saat pertama kali gue menunjukkan minat di musik. Gue pukul-pukul meja ngikutin beat drum dari lagu yang gue denger. Lalu bokap belikan gue drumset kecil. Tak terasa, sekarang gue jadi bassist. Sebuah perjalanan panjang yang menyangkut aktualisasi diri dan adaptasi.

Gue ingat betul saat pertama kali gue berbisnis. Waktu itu umur 6. Gue yang masih kecil dan tidak punya uang jajan itu sedang bergaul dengan kawanan kakak gue yang 5 tahun lebih tua, saat itu penjual es krim lewat depan rumah dan gue pengen, tapi sekali lagi, tidak punya uang jajan. Beda dengan kawanan kakak gue yang sudah dikasih uang jajan. Akhirnya gue ambil batu kerikil warna putih di pekarangan rumah dan gue cuci hingga bersih, dan mulai pitching: "kemaren ayahku dapet hadiah dari temennya, ini batu dari bulan, keren ya" lalu gue tawarkan ke kawan kakak gue, gue berhasil tukar batu itu dengan es krim yang gue mau. Tak terasa, sekarang gue bikin brand dengan logo es krim.

Begitu juga dalam band. Gue ingat betul pertama ngajak Sansan take vokal lagu yang sudah gue rekam sebelumnya, judulnya Remember The Titans, dari judul film yang dibintangi Denzel Washington. Tentang tim football yang menang despite racial slurs pada eranya. Melewati masa dimana satu mobil disetir satu orang menuju satu tujuan, sampai akhirnya setiap penumpang belajar menyetir di mobil masing-masing, not sure about the destination, but we just like to drive. Maybe it just didn't matter where we headed, we enjoyed the journey anyway.

Kami adalah regenerasi skena pada masanya. Saat kancah pensi ramai dengan Modern Darling-nya The Upstairs, Goodnight Electric, dan emo revivals, kami membuat lingkaran baru yang terbuka untuk siapa saja. Pee Wee Gaskins, Thirteen, Killing Me Inside, The Old Curse Of Death. Gue merindukan masa dimana setiap weekend kami berkumpul di bilangan Kemang dan saling bertanya, "hari ini siapa yang main, dimana?" Menggerakkan sebuah komunitas dengan basis "Top 8 Myspace" di laman kami masing-masing. Menggunakan social media sebelum "Youtube lebih dari TV", menempelkan poster acara, menyebar flyers, dan sesekali bila beruntung, dapat dukungan dari radio. Tidak pernah terpikir untuk intimidasi, jumawa, dan mencoba merangkul semua yang sejalan. Karena regenerasi bukan berarti mematikan atau mendiskredit generasi sebelum, tapi melestarikan apa yang sudah ada supaya umurnya bisa panjang.

Tentu saja, tidak semua berjalan lancar, tidak semua bisa menerima perubahan.

Gue ingat isu pertama yang mencoba menjegal Pee Wee Gaskins. Saat itu kami mendapat tawaran untuk main di acara komunitas di De Javu, sebuah klub kecil di bilangan Thamrin, walaupun belum di-iya-kan panitia memasukkan Pee Wee Gaskins dalam poster acara. Dan manajer kami waktu itu mendapat tawaran untuk main di pensi besar sebuah sekolah di Jakarta pada tanggal yang sama. Walaupun kami sudah konfirmasi bahwa Pee Wee tidak bisa ikutan gigs De Javu itu, nama kami sampai hari H belum dicabut dari line up. Tentu saja, opini mulai tergiring. "Wah udah lupa sama komunitas, sekarang main di pensi", "wah udah mainstream sekarang, lupa sama gigs" dan lain lain.

Don't be afraid of change, you may lose something good, but you may gain something better.

9 tahun, 3 full album, 4 EP, dan 1 live DVD berlalu.

Sudah saatnya regenerasi.

Scene butuh pergerakan masif supaya umur bisa panjang.


Siap untuk perubahan?

INHERIT POP PUNK!

12 komentar:

Merlina Frandez mengatakan...

I Like it !

Furniture Rotan Sintetis

kristian kumajaya mengatakan...

pee wee gaskins mau di "regenerasi" bang? heheeheee

Pria Prakarsa mengatakan...

3 ep? bukannya 4?

Asep Rizki mengatakan...

Regenerasi ???

damiaprnt mengatakan...

ada kesenangan tersendiri baca tulisanmu bang hihi ^^

Ade Irfan Nugraha mengatakan...

Ada apa gerangan, hmm kita tunggu saja hehe

danang em mengatakan...

saatnya mz

Ibrahim Januar mengatakan...

Tulisan yang selalu dinanti, ringan, bikin nagih, sering-sering update dong.

Unknown mengatakan...

why? pee wee gaskins my energy.

Bagus Reinaldi mengatakan...

sangat senang dengan tulisan ini. kalo boleh menambahkan, konsistensi dalam beraksi juga perlu karena tiap gagasan takkan menemukan tujuan jika tidak ada tindakan lanjut contohnya konsistensi dalam berkarya, dan mencoba bergerak dinamis juga tidak salah karena umur panjang juga membutuhkan pembaharuan. maaf kalo ada yang salah ya, hanya pengen sharing pemikiran, God Bless You and Pee Wee Gaskins. Pop Punk Not Dead.

Unknown mengatakan...

Lebih ngrasa deket dengan idola kalo lewat tulisan kayak gini dripada lewat video?

Unknown mengatakan...

Lebih ngrasa deket dengan idola kalo lewat tulisan kayak gini dripada lewat video?