Gue menulis ini karena pasti ada diluar sana pasangan yang merasa belum siap punya anak, atau yang pengen punya anak tapi merasa takut menjalani proses menjadi ibu, atau suami yang hanya berperan sebagai suami, bukan jadi Ayah. Ini proses yang gue lewati dan semoga bisa saling belajar.

Pada suatu hari di Linggar Seni, Kemang Timur, Tasya cemas karena belum juga mens padahal sudah waktunya. Sedangkan gue ngga merasa curiga karena biasanya juga ngga kenapa-kenapa walaupun telat sampe seminggu. Tapi untuk mengurangi rasa penasaran akhirnya gue beli test pack dan langsung coba besok paginya.
First pee in the morning result? Two stripes! Dan Tasya waktu itu shock banget, serasa her world felt literally crumbles in front of her. Kami pasangan muda yang masih ingin menikmati perjalanan berdua, pencarian pencapaian dan belajar pembuktian. I was shocked too. Tapi mencoba untuk lebih tenang, because deep inside, i DO want this. Mungkin false reading? So minggu itu kami cek 4x dan semua test pack garisnya 2 

 

Perasaan ngga karuan saat itu karena Tasya merasa belum siap dan bahkan consider untuk -sigh- i can't even write this down.. Rumah sakit pertama yang kami datengin RSIA Asih dan kami bertemu Dr. Amru. Tasya di USG dan ternyata kantong janinnya belum terlihat, karena belum ada 2 minggu. Ya sudah kami pulang dengan perasaan ganjel. Jadi ini hamil apa ngga? Kami disuruh cek lagi minggu depan. 

 

Besoknya, karena gue gak tahan diperjalanan Tasya rungsing pengen tau hamil apa ngga akhirnya gue mampirin Brawijaya Women & Children Hospital. Lalu setelah dicek? Kantung janinnya kelihatan! Jadi setelah 4x test pack dan 2x USG akhirnya dokter ketok palu bahwa Tasya fix hamil. How did I take the news? Kind of a mixed feelings. Overjoyed in desperation, melihat Tasya didn't want to get through all the process of pregnancy and labor. Mau disuntik aja harus nangis dulu, dan merasa mengurus diri sendiri aja belum bisa apalagi harus mengurus anak. Belum lagi gimana kalau nanti ASI tidak keluar? Atau harus cesar? Atau.. atau.. atau... Tapi gue selalu berusaha menenangkan. Tried to be there all the time, sampai akhirnya gue memutuskan 4-5 bulan ngga ikut Pee Wee Gaskins ke luar kota because my wife needs extra emotional support. And I didn't regret that decision. 

 

 

Selanjutnya gue cari lingkungan yang lebih kondusif karena sebelumnya kami kost berdua di daerah Kemang. Akhirnya kita dapet tempat di Bintaro. Kebetulan satu komplek sama kk gue. Kami ngelewatin masa masa hamil dan melahirkan di sini (ngga bisa di rumah mertua karena ada Oggy - the dog) di dekat rumah ada studio yoga pra natal Nujuhbulan, yang kedepannya membantu kami melewati masa-masa sulit. Next, cari dokter! Mengikuti beberapa referensi akhirnya memilih Dr. Achmad Meidiana yang kliniknya deket banget sama Linggar Seni. Dan hari pertama kani ke sana di TV lagi play proses persalinan dan Tasya langsung nangis liat itu 😁. Tapi begitu ketemu Dokter Achmad sepertinya langsung cocok, karena dia bukan tipe yang sugarcoat. Yang bilang ngga sakit kalo emang sakit, gak boong-boong menenangkan, dan kami cocok yang seperti itu. Hasil periksa pertama bagus. Gak ngerti jadinya kalo kami gak ketemu Dokter Achmad.

End of part 1.


Looking Back: Sebelum Anila (part 1)

Gue menulis ini karena pasti ada diluar sana pasangan yang merasa belum siap punya anak, atau yang pengen punya anak tapi merasa takut menjalani proses menjadi ibu, atau suami yang hanya berperan sebagai suami, bukan jadi Ayah. Ini proses yang gue lewati dan semoga bisa saling belajar.

Pada suatu hari di Linggar Seni, Kemang Timur, Tasya cemas karena belum juga mens padahal sudah waktunya. Sedangkan gue ngga merasa curiga karena biasanya juga ngga kenapa-kenapa walaupun telat sampe seminggu. Tapi untuk mengurangi rasa penasaran akhirnya gue beli test pack dan langsung coba besok paginya.
First pee in the morning result? Two stripes! Dan Tasya waktu itu shock banget, serasa her world felt literally crumbles in front of her. Kami pasangan muda yang masih ingin menikmati perjalanan berdua, pencarian pencapaian dan belajar pembuktian. I was shocked too. Tapi mencoba untuk lebih tenang, because deep inside, i DO want this. Mungkin false reading? So minggu itu kami cek 4x dan semua test pack garisnya 2 

 

Perasaan ngga karuan saat itu karena Tasya merasa belum siap dan bahkan consider untuk -sigh- i can't even write this down.. Rumah sakit pertama yang kami datengin RSIA Asih dan kami bertemu Dr. Amru. Tasya di USG dan ternyata kantong janinnya belum terlihat, karena belum ada 2 minggu. Ya sudah kami pulang dengan perasaan ganjel. Jadi ini hamil apa ngga? Kami disuruh cek lagi minggu depan. 

 

Besoknya, karena gue gak tahan diperjalanan Tasya rungsing pengen tau hamil apa ngga akhirnya gue mampirin Brawijaya Women & Children Hospital. Lalu setelah dicek? Kantung janinnya kelihatan! Jadi setelah 4x test pack dan 2x USG akhirnya dokter ketok palu bahwa Tasya fix hamil. How did I take the news? Kind of a mixed feelings. Overjoyed in desperation, melihat Tasya didn't want to get through all the process of pregnancy and labor. Mau disuntik aja harus nangis dulu, dan merasa mengurus diri sendiri aja belum bisa apalagi harus mengurus anak. Belum lagi gimana kalau nanti ASI tidak keluar? Atau harus cesar? Atau.. atau.. atau... Tapi gue selalu berusaha menenangkan. Tried to be there all the time, sampai akhirnya gue memutuskan 4-5 bulan ngga ikut Pee Wee Gaskins ke luar kota because my wife needs extra emotional support. And I didn't regret that decision. 

 

 

Selanjutnya gue cari lingkungan yang lebih kondusif karena sebelumnya kami kost berdua di daerah Kemang. Akhirnya kita dapet tempat di Bintaro. Kebetulan satu komplek sama kk gue. Kami ngelewatin masa masa hamil dan melahirkan di sini (ngga bisa di rumah mertua karena ada Oggy - the dog) di dekat rumah ada studio yoga pra natal Nujuhbulan, yang kedepannya membantu kami melewati masa-masa sulit. Next, cari dokter! Mengikuti beberapa referensi akhirnya memilih Dr. Achmad Meidiana yang kliniknya deket banget sama Linggar Seni. Dan hari pertama kani ke sana di TV lagi play proses persalinan dan Tasya langsung nangis liat itu 😁. Tapi begitu ketemu Dokter Achmad sepertinya langsung cocok, karena dia bukan tipe yang sugarcoat. Yang bilang ngga sakit kalo emang sakit, gak boong-boong menenangkan, dan kami cocok yang seperti itu. Hasil periksa pertama bagus. Gak ngerti jadinya kalo kami gak ketemu Dokter Achmad.

End of part 1.


12 komentar:

inung mengatakan...

soooooo excited. ditunggu part 2 nya cod. gue pun sedang hamil yang pas tau pertama hamil drama nya naujubillah. DITUNGGUUU...!!

vito hogantara mengatakan...

Oh hi doch, anda nulis lagi, oiya banyak typonya mas, selalu senang bisa membaca tulisan mas dochi ��

404 Not Found mengatakan...

@vito wah iya ya, nulis pake HP banyak auto correct malah jadi salah salah ya haha ok dibenerin, thanks

@inung wih haha pasti ada kalo drama, apalagi anak pertama hihi

Unknown mengatakan...

so proud of ka taza&mas ditsa...a lot!

Safira Andhani mengatakan...

Same here. 😭
Please, release part 2 nya asap. 🙏🏼

Herliani Putri Pahlawati mengatakan...

bang emang kalian umur berapa sekarang?ditunggu ya part 2 nya

Alfin Fadhilah mengatakan...

Ditunggu part 2 nya bg.

dhita tristiana mengatakan...

Aaahhhh ditunggu part 2 nya kaakk.. soalnya sama banget sm gue dan suami yg masih belajar di anak pertama ini dan masih banyak kaget dan takut di awal hamil hha

anastasia septina mengatakan...

Cerita yang selalu unik & menarik untuk terus dibaca. Nggak sabar nunggu part 2 .

Nabila Louhanapessy mengatakan...

bagus untuk pembelajaran buat gue sama suami nih yg baru nikah. thank you for sharing ka, ditunggu part 2 nya.

oh and yeah, ada typo ka, mungkin maksudnya "4x test pack" tapi auto correct mungkin jadi "4x six pack" hehehe

404 Not Found mengatakan...

@nabila haha oiaaa thanks koreksinya haha payah nih auto correct

aeharnizar mengatakan...

ahaha gw baca blog lo dr lama, skrg anak pertama gw udh 13 bulan.. dan saat pertama kali istri testpack terus hamil kebalikannya gw malah yg ngerasa belom siap..
tp abis dokter ketok palu malah gw yg ngulik ini itu, baca ini itu dan jd lbh khawatir sama bawel k istri, sampe niat belajar masak yg jatohnya sih masak eksperimental yang untungnya masih bsa istri makan :p

belaajae byk bgt hal, dari yg masih belajar jd suami sampai harus akselerasi adaptasi d role jadi ayah jg..

tp intinya banyak bersyukur dan alhamdulillah byk pelajaran, cerita dan pastinya kenangan di proses yg dlewatinya..


selamat ya chod