Tentang Perubahan.

Udah lama gak update blog, yaudah sekalian mau cerita proses pembuatan A Youth Not Wasted aja.. Jadi udah 6 tahun sejak Pee Wee Gaskins terakhir ngeluarin full album di 2010, Ad Astra Per Aspera. Tadinya next album rencananya berjudul Epilog, sebagai album perpisahan sama Alfarecords, label yang menaungi Pee Wee Gaskins selama 3 tahun. Ternyata kita tidak harus membuat Epilog untuk menyelesaikan kontrak, karena akhirnya DVD Live bisa dianggap sebagai penutup quota kontrak album. Well, sejujurnya kalau Epilog keluar gue akan sangat tidak puas. There was nothing new about that album. The sound we made, the songs we played, the graphics, the concept, nothing interested me personally. We needed something more, we needed something fresh, so we waited for so long to prepare for a new release. Tapi supaya gak absen karya, kami selalu ngeluarin EP di tiap ulang taun Aldy. Pertamanya kebetulan, tapi akhirnya dijadiin ritual aja. YAIGS EP 2012, Transit EP 2013, dan Extended Play (EP) 2014.


Sejak Rufio ke Jakarta dan Bali (lupa tahun berapa, mungkin 2009?) gue masih suka ngobrol-ngobrol sama Scott Sellers, gue dan Scott berteman cukup baik dan sering berhubungan via facebook dan whatsapp, tidak hanya urusan band, tapi kadang juga ngomongin hal gak penting, you know just daily what nots. Sampai akhirnya tahun 2014 Scott menawarkan mixing dan mastering di dia kalo mau keluarin album baru.

Scott tinggal di Rancho Cucamonga, California.


 Di tahun 2014 juga studionya Aldy, Beatspace, jadi. Kami mulai ngumpulin materi baru dan ngerekam ulang lagu yang mau dirilis di full album. Sambil nyicil, gue kirim beberapa materi ke Scott via Dropbox dan dia utak-utik dan kasih masukan. He liked it. Proses pembuatan album ini tidak seperti biasanya. Biasanya kami jamming di studio bikin lagu, terus lagu itu langsung kami rekam, dan ada deadline, The Sophomore kami selesaikan 3 bulan, dari pembuatan lagu sampai mastering, Ad Astra Per Aspera juga kurang lebih 3 bulan. Di pembuatan album ini, misalnya ada yang punya ide lagu, ngerekam demonya di rumah masing-masing, simpel; pake voicenote di handphone, lalu dibawa ke studio untuk dikasih denger ke Aldy, lalu Aldy langsung bikin aransemen drum dari awal lagu sampai habis, tanpa guide gitar. Jadi dia dengerin voicenotenya, diafalin partnya, dan take drum cuma dengerin metronome. Setelah itu, Ayi take guitar yang udah ada drumnya. Waktu Ayi take juga dia take sendiri, jadi gak ada intervensi dari personil lainnya, pure ide dia, kreatifitas dia, dan ide dia. Setelah Ayi, Sansan take gitar dia dengan proses yang sama, lalu gue take bass. Gue gak tau notasi yang dimainkan Ayi dan Sansan di tiap lagu, jadi setiap mau take gue kulik dulu kuncinya, lalu gue isi semau gue. Setelah gue selesai baru Omo take part dia. Selanjutnya vokal, 1 hari cuma boleh isi 1 lagu, supaya power dan mood terjaga. Saat dimana kami ketemu di studio bareng biasanya pas mau take vokal, Sansan dan Omo biasanya nanya grammar check untuk lagu bahasa Inggris yang mereka tulis, gue tambahin beberapa bait, dan lagu yang belum ada liriknya gue bikin di studio sebelum take, salah satunya Kertas Dan Pena. Proses ini berjalan santai, kami mulai recording 2014 awal dan selesai pertengahan 2015. Kami punya 15 lagu materi album, dan 60% lagu yang sudah kami simpan sebelumnya.

Penting: bikin kartu nama, tukeran kartu nama.
Scott mulai ngerjain contoh mixing beberapa lagu, salah satunya Sassy Girl yang pernah rilis duluan untuk Hai, itu hasil mixing dia, we liked it, tapi kurang puas. Sambil berjalan, kami mulai mikirin ini nanti rilisnya gimana, mau rilis sendiri dengan kapasitas seadanya, nanti ujung-ujungnya belum merata distribusinya udah dibajak duluan. Sayang soalnya, dengan animo yang segitu besar, kalau album baru keluar banyak sekali yang pengen punya tapi kalau album gak tersedia dengan baik, akhirnya mereka akan ambil dengan cara download ilegal. We needed a label. We needed a label with good reputations, we needed a label with good networking, and we needed a strategy. Sebagai digital strategist Pee Wee Gaskins gue mulai cari cari dan bikin plan untuk album ini. Lalu gue inget beberapa tahun silam, ketika Pee Wee Gaskins main di Manila untuk Sonic Boom Fest, ada satu orang yang mingle, kata temen gue yang band lokal sana, Typecast, dia orang label, lalu diakhir obrolan kami tukeran kartu nama, ternyata he works for Universal Records (Philippines). Lalu saat pertama kali gue ke Tokyo untuk Punk Spring (diundang untuk nonton, yang pada akhirya membawa Pee Wee Gaskins kesana setahun setelahnya untuk Summer Sonic) gue ketemu beberapa orang label lagi, ada Hopeless Records, Sony Music, dan lagi-lagi, Universal Records.


2013, katanya ada orang Hopeless Records Asia nanya-nanya Pee Wee Gaskins, dan akhirnya gue ketemu orangnya, Sameer Sadhu, dia megang Hopeless Asia (Exclude Jepang) dan base nya di Singapur. We hung out quite a lot and talked about possible projects in the future, salah satunya Pee Wee Gaskins sign sama Hopeless, tapi Hopeless masih fokus untuk rilis band US yang sudah established. Akhirnya kami cuma mewakili scene South East Asia aja. If ever we need help from them, or they need help from us, we got each other's backs. It's still super cool.

Di tahun yang sama gue diundang lagi ke Jepang untuk Punk Spring, jadi gue berangkat kesana sekalian main akustik 2x disana, yang satu lagi bareng idol group lol. Anyway, Punk Spring was fun, i get to meet and mingle with NOFX, Weezer, Lagwagon, Mayday Parade, and Akihiro Namba from Hi-Standard. How come, you ask? They gave me this super cool pass. Back stage selalu jadi momen yang penting karena gue bisa ketemu dan kenal orang industri disana. Selalu bawa kartu nama di momen seperti ini. Eventhough it's always tempting to take pictures with them, keep this as a priority: make sure they know your name and who you are and what you do. It'll last longer than just pictures.

me, too drunk to remember.
Selain back stage, momen penting lainnya gak akan gue lewatin dalam kesempatan kaya gini adalah after party. Karena gue akan ketemu lagi orang-orang itu dalam keadaan yang lebih santai. And since I already left an impression, gak akan susah untuk mulai ngobrol lagi. Kali ini gue ketemu beberapa orang label lagi yang sebelumnya gue temuin di back stage. Salah satunya? Yes. Ada orang Universal Records lagi. Mereka mau denger materi Pee Wee Gaskins, gue kasih denger You And I Going South, they liked it. Mereka rekomendasi untuk temuin Universal Indonesia. Tapi waktu itu belum kepikiran mau rilis sama Major.

Sesampainya di Jakarta biasanya gue akan keluarin "koleksi" kartunama dan gue email kalau gue udah balik ke Jakarta. Basa basi sih, like "hey i'm back in Jakarta now, it was nice to meet you, much gratitude" biar nyantol nama gue heheh.

Ok balik lagi, jadi materi A Youth Not Wasted udah kelar, terus dapet email dari Nukui Bogard, dia sempet nonton Pee Wee Gaskins waktu di Jepang, katanya dia suka dan mau bikin artwork, awalnya buat merchandise, tapi mumpung lagi mau keluarin album akhirnya gue tawarin untuk kerjain artwork album, dan dia mau. Gue gak brief banyak, tapi sepertinya dia research sendiri dan kirim beberapa artwork yang langsung kami suka. Sebelumnya dia pernah ngerjain artwork MXPX, NOFX, Lagwagon, Bowling For Soup, UK SUBS, dll. Pretty cool, huh?

Rekap: kami punya 15 lagu siap rilis, artwork udah setengah jadi, rilisnya gimana? Rino sempet ngajuin sebuah nama Major Label, tapi dealnya kurang bagus. Sempet ketemuan juga sama Erix Soekamti minta diproduserin, tapi dia maunya materi baru semua dan di take ulang sama dia. We didnt have the time dan sayang lagu-lagu yang udah siap ini. Jadi kami simpan saja untuk kerjasama berikutnya. Lalu sambil cek instagram ada yang ngetag foto, namanya familiar, oh gue inget, dia Dork, termasuk Dork awal-awal jaman basecamp masih di Mendawai. Dia ngetag foto baru abis beli sepatu Zero Hate x Saint Barkley, dan gue lihat locationnya Universal Music Indonesia. Gue iseng buka profilenya, ternyata dia emang kerja di Universal Music Indonesia. Gue komen minta kontek A&R Universal, dikasih, dan kami janjian ketemu.

Ternyata yang mau ketemu langsung pak Jan Djuhana, A&R Director Universal Music Indonesia. Cool ol' champ. Singkat cerita, Universal tertarik untuk release, dan menyerahkan proses kreatif sepenuhnya ke Pee Wee Gaskins. Management juga tetep Pee Wee Gaskins yang pegang. Pretty good deal, dapet network lebih besar. 15 lagu dipilah jadi 10, supaya isinya fresh dan karakter tiap lagunya kuat. Sisanya ditabung. Black And White, No Strings Attach, You Throw The Party We Get The Girls, dan 2 titel rahasia lainnya masih disimpen. Ini udah akhir tahun 2015, dan kami ngejar rilis di awal tahun 2016, jadi gak ngejar kalau dimixing Scott, dan hasilnya juga kurang maksimal karena dia ngerjainnya di rumah. Sayang banget mesti kehilangan nama Scott untuk di album ini, but we need to decide, and we decided to give the honor to Stephan Santoso.

Tanggal 4 Maret A Youth Not Wasted resmi release di iTunes dan menempati posisi ke 2, dibawah Adele.


So yeah, that's my side of the story.

A Youth Not Wasted udah jadi slogan Pee Wee Gaskins, nempel di bass gue, dipilih jadi judul album karena mewakili semua lagu yang ada di dalamnya, tentang masa muda yang tidak disia-siakan.

I hope you enjoy this as much as I do.

Cheers!

x Dochi

https://itunes.apple.com/id/album/a-youth-not-wasted/id1084205691


A Youth Not Wasted

Drips.

“Aku punya band, aku harus ngapain ya?”

Sebuah pertanyaan yang lumayan sering ditanyakan ke gue belakangan ini. Menarik.
Tapi ya jawabannya kembali ke si penanya, mau dibawa kemana band nya?
Nah ini postingan pertama gue di sini, dalam kesempatan ini gue mau bahas sedikit tentang suatu hal yang dinamakan ego.

Sering sekali gue denger curhatan seorang fans, dia punya band, tapi di dalam band tersebut susah banget menyatukan kepala mereka, semua egonya besar sekali.
Well, ego itu gak selamanya hal yang buruk. Ego yang nyetir seseorang untuk menjadi seperti apa yang dia mau. Bisa dibilang, ego ini bahan bakar untuk terus berjalan.
Tentu saja, ego yang berbeda arahnya pasti juga berbeda. Itulah kenapa kapal cuma ada 1 nahkoda. Begitu juga idealnya sebuah band.



Atau gampangnya gini deh, pernah kepikiran gak kenapa motor setirnya cuma satu? Ya bayangin aja kalau setirnya ada dua, gak akan nyampe-nyampe tuh apalagi kalo masing-masing yg nyetir beda tujuan.

Cari 1 orang dengan ego yang paling besar dalam band, tunjuk dia menjadi nahkoda. Band itu sebuah team, dan sekali lagi, team butuh pemimpin.

Kenapa butuh pemimpin?
Sebuah band tanpa pemimpin biasanya tidak ada ambisi.




Band yang berjalan dengan system total demokrasi alias semua berdasarkan voting terbanyak untuk mengambil keputusan  biasanya akan berahir stagnan dan lambat pergerakannya.
Logikanya seperti ini. Ada 10 orang di dalam kelas, diantaranya ada 2 murid pintar, yang lainnya rata-rata. Kalau voting dan mayoritas tidak setuju dengan suara minoritas, belum tentu keputusan yang diambil adalah keputusan yang bijak, bukan?

Pemimpin harus bisa mengambil keputusan.

Pemimpin gak harus yang paling jago main alat musik. Tapi balik lagi ya, band itu kumpulan orang yang bermain musik, jadi ambisi saja tidak cukup, bakat jangan lupa diasah. Berlatih dan berlatih.

Seorang pemimpin harus professional.

Perlu di ingat bahwa bermusik adalah karir dengan tantangan yang sangat besar yang membutuhkan banyak pengetahuan, bertahun-tahun latihan, disiplin, kreatif, dan kemampuan berorganisasi. Untuk dihargai, seorang pemimpin harus punya sifat professional. Tepat waktu, organized, dan siap menghadapi masalah.

Seorang pemimpin harus punya kesabaran.

Membutuhkan banyak waktu untuk mencapai impian dalam sebuah band, kalau grasak-grusuk cepet capek dan akhirnya cepet nyerah juga. Sabar. Nikmatin perjalanan dari sebuah band. Banyak berlatih, ciptakan suasana nyaman dalam sebuah band. Latihan, latihan, dan latihan.

Seorang pemimpin harus punya rasa hormat.

Seperti halnya dalam sebuah hubungan, semua ekspektasi harus dibahas. Ingat bahwa setiap musisi punya bakat, ide, personal goal, dan gairah yang berbeda. Biarkan itu berkembang. Sikap menghargai ini akan membuat band penuh dengan energi positif dan ide yang segar. Berikan motivasi.

Seorang pemimpin harus bisa berpikiran terbuka.

Gaya berfikir orang pasti berbeda. Adain sesi brainstorm. Bertukar pikiran, lihat dari perspektif yang berbeda. Biarkan semua berkontribusi. Dan pada akhirnya, ambil keputusan.

Seorang pemimpin harus bisa melihat gambar besar.

Tentukan arahnya mau kemana, lihat gambar keseluruhannya tapi jangan luput hal kecil yang mesti diperhatikan. Pay attention to small details. Pada akhirnya seorang pemimpin harus bisa mewujudkan, menjelaskan konsep, dan tentukan apa yang harus dilakukan kedepannya.
Kadang kewajiban pemimpin terlalu banyak, yang berikutnya harus dimiliki seorang pemimpin adalah kemampuan untuk mendelegasi.

Seorang pemimpin juga harus sadar diri. 

Bahwa sebuah band bukan mesin, dan pemimpin bukan seorang dictator.  Walaupun kadang tidak setuju dengan pendapat yang lain, at least dukung pendapatnya dan ingat, perlakukan orang sebagaimana lo mau diperlakukan.



Yang paling penting,

Seorang pemimpin harus jadi motivator.

Semua proses yang terjadi dalam perjalanan sebuah band, nikmatilah. Perjalanannya gak selamanya menyenangkan. Jadi mesti sabar-sabar. Hehe.
Nah, jadi kalo punya band, sekarang tunjuk siapa yang jadi pemimpinnya. Ingat, nahkoda kapal itu 1, dan masakan juga rasanya akan aneh dan tidak enak kalau juru masaknya banyak.

Semua orang bisa menjadi pemimpi, tapi gak semuanya bisa jadi pemimpin.

baca postingan gue di www.ngapainaja.com

BAND 101: Apakah band butuh pemimpin?

How To Get Girls?

Do you really love this town or are you just stuck here?

Hal-Hal Yang Tidak Ingin Kamu Ketahui Tentang Aku Yang Aku Tidak Ingin Kamu Ketahui

Minor Updates.

sebuah tulisan sensitif berjudul... keyakinan

"Have You Ever Thought About Leaving?"